Bantu Penanganan Ketimpangan, Pemprov Kaltim Usul Pembentukan Pokja Pembangunan Gender

Bantu Penanganan Ketimpangan, Pemprov Kaltim Usulkan Pembentukan Pokja Pembangunan Gender
Sekda Kaltim Sri Wahyuni. (Adpimprov Kaltim)

SAMARINDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim mengusulkan pembentukan Kelompok Kerja (Pokja) Pembangunan Gender. Tujuannya untuk membantu penanganan persoalan ketimpangan gender di Benua Etam. 

“Pokja ini akan diisi personel lintas sektor agar rekomendasi kebijakan dan program pembangunan lebih fokus dan tepat sasaran,” terang Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kaltim Sri Wahyuni pada Diseminasi Hasil Survei Indikator Pendukung IPM, IPG, IDG dan IKG di Kantor Gubernur Kaltim, Kamis (18/9/2025).

Disampaikan, langkah selanjutnya adalah menyiapkan rencana aksi. Dari sini akan jelas, setiap OPD terkait akan mengerjakan apa dalam program kerja mereka. Pokja nantinya akan terbagi dalam beberapa tim dan setiap tim harus menyiapkan rencana aksi yang didukung dengan rencana kerja anggaran (RKA).

Baca Juga  Edi Damansyah Berbagi Kebahagiaan Ramadan dengan Warga Dusun Ketenuq

Ke depan, Pemprov Kaltim juga akan melakukan intervensi ke daerah-daerah untuk pembangunan gender ini. Skor IPG dan IKG masing-masing daerah akan menjadi pertimbangan.

“Jadi kabupaten mana, treatment-nya apa? Dan kota apa, treatment-nya apa? Siapa yang paling dominan berdasarkan data ini. Jadi target dan lokusnya jelas,” sebutnya. 

Pokja ini harus menyusun rencana aksi dengan target jelas, berdasarkan data ketimpangan di tiap kabupaten/kota. Selain Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Dinas Tenaga Kerja dan Dinas Pendidikan, Dinas Pekerjaan Umum juga memiliki peran penting. Misal terkait akses jalan menuju fasilitas kesehatan pertama dan sekolah. 

Baca Juga  Struktur Labil dan Curah Hujan Tinggi Bikin Jalan Penghubung Kenohan-Kota Bangun Rusak

Rata-rata lama sekolah di Kaltim baru 10,2 tahun atau belum lulus SMA. Kondisi ini membutuhkan intervensi melalui program Paket C bagi anak usia non-sekolah agar mereka tetap bisa melanjutkan pendidikan.

“Program Gratispol menyentuh pelajar yang usia sekolah, nah bagaimana dengan yang bukan usia sekolah. Mungkin program paket-paket itu bisa kita buka lagi,” saran Sekda Sri Wahyuni.

“Dengan rencana aksi yang jelas, kita bisa memastikan intervensi tepat sasaran. Tidak lagi sekadar berdasarkan keinginan penyusun program, tapi berbasis data kesenjangan nyata,” pungkasnya. (xl)