Dinkes Kaltim Sebut Persentase Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah

Dinkes Kaltim Sebut Persentase Pemberian ASI Eksklusif Masih Rendah
Kepala Dinkes Kaltim dr Jaya Mualimin dalam Workshop Pekan ASI Sedunia tingkat provinsi di Convention Hall Samarinda, Ahad (20/8/2023). (Diskominfo Kaltim)

SAMARINDA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim menyebut pemberian air susu ibu (ASI) masih rendah. Karenanya dalam upaya mengampanyekan praktik pemberian ASI serta memberikan dukungan kepada ibu yang bekerja agar tetap bisa menyusui, Dinkes Kaltim mengadakan Workshop Pekan ASI Sedunia tingkat provinsi di Convention Hall Samarinda, Ahad (20/8/2023).

Kepala Dinkes Kaltim dr Jaya Mualimin mengatakan Pemerintah dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung ibu yang bekerja untuk tetap menyusui. Kebijakan yang memfasilitasi pemberian ASI di tempat kerja dan kampanye kesadaran dapat berkontribusi pada perubahan positif dalam budaya menyusui.

“Presentase pemberian ASI eksklusif masih rendah yakni 40 persen. Keterlibatan semua pihak terkait sangat penting. Kita perlu memastikan semua yang berperan itu bisa memberikan penyadaran dan kesadaran serta memberikan contoh bagaimana pentingnya ASI yang diberikan kepada anak anak kita sesuai dengan kebutuhan,” papar Jaya.

Baca Juga  Ketua DPRD Kukar Minta Pemkab Antisipasi Banjir di Tenggarong

“Peran pemberian ASI nantinya sangat berpengaruh terhadap stunting,” imbuhnya.

Jaya juga menjelaskan lingkungan kerja yang mendukung pemberian ASI bagi ibu yang bekerja dapat memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan ibu dan bayi. Fasilitas seperti ruang menyusui, waktu istirahat yang memadai, dan kebijakan tempat kerja yang mendukung pemberian ASI dapat membantu ibu menjaga kualitas dan kuantitas pemberian ASI.

“Upaya yang terus kami lakukan adalah promosi mengenai peningkatan cakupan ASI eksklusif. Mengajak seluruh Perangkat Daerah (PD) untuk memberikan perlindungan kepada para pekerja wanita sehingga diharapkan semuanya memiliki ruang laktasi dan fasilitas untuk memberikan ASI ,” bebernya.

Baca Juga  Dosen Uniba Sebut Otorita IKN Tak Bisa Kuasai Lahan Tanpa Persetujuan Pemilik

Sementara itu Konselor Laktasi dr Nanan Surya Perdana memaparkan beberapa faktor yang menjadi kendala bagi Ibu pekerja dalam memberikan ASI eksklusif bagi anaknya. Di antaranya yakni kurangnya dukungan keluarga, masa cuti yang diberikan kantor atau perusahaan terbatas sehingga Ibu harus kembali bekerja, serta tidak adanya fasilitas memadai untuk memerah ASI dan tempat penyimpanan hasil perah.

“Kebanyakan Ibu bekerja hanya memberikan ASI sampai 3 sampai 4 bulan usia bayi. Karenanya edukasi menjadi sangat penting bagi para Ibu pekerja selain dukungan beberapa faktor lain,” urai Nanan.

“Ada peranan konselor ASI yang memberikan info betapa pentingnya ASI ekslusif selama 6 bulan. Atau instansi juga bisa memanfaatkan momen Hari Besar untuk memberikan reward kepada Ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif sehingga, bisa menjadi pacuan bagi Ibu lain,” sambung dokter anak ini. (xl)