Ragam  

Erau Hidupkan Kembali Olahraga Tradisional di Kutai Kartanegara

Foto : Lomba Olahraga Tradisional digelar di Halaman Parkir Jembatan Repo-repo, Tenggarong. (Prokom Kukar)

KUTAI KARTANEGARA – Perayaan Erau di Kutai Kartanegara (Kukar) kembali menghadirkan perlombaan olahraga tradisional yang sarat nilai budaya lokal. Ajang ini tidak hanya dimaknai sebagai kompetisi semata, melainkan sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya daerah kepada generasi muda.

Hal itu disampaikan Asisten III Setkab Kukar, Dafip Haryanto, saat membacakan sambutan Bupati Kukar, Aulia Rahman Basri, dalam Pembukaan Lomba Olahraga Tradisional di Halaman Parkir Jembatan Repo-repo, Rabu (24/9/2025).

“Perlombaan olahraga tradisional harus dilihat bukan hanya sebagai pertandingan, tetapi juga sebagai ajang menjaga, melestarikan, dan memperkenalkan kembali budaya daerah, khususnya olahraga tradisional khas Kukar dan Kalimantan Timur,” tegasnya.

Baca Juga  Dukung Pengembangan Wisata, Pj Gubernur Kaltim Wajibkan Perangkat Daerah Rakor di Maratua

Olahraga tradisional yang diperlombakan antara lain belogo, begasing, ketapel atau terpelan, serta sumpit. Jenis permainan ini dinilai mulai jarang ditemui di tengah masyarakat modern yang lebih akrab dengan olahraga populer.

Pemkab menekankan pentingnya menanamkan kecintaan terhadap olahraga tradisional kepada anak-anak, pelajar, dan mahasiswa. Menurutnya, mereka adalah generasi penerus yang akan menjaga warisan budaya.

“Ke depan, jadwal perlombaan olahraga tradisional ini sebaiknya juga disosialisasikan ke sekolah dan kampus, sehingga anak-anak muda mengetahui, tertarik, dan ikut menyaksikan,” pesannya.

Baca Juga  Distanak Kukar Pastikan Ketersediaan Hewan Kurban Jelang Iduladha

Pihaknya telah menempatkan pelestarian budaya, termasuk olahraga tradisional, sebagai isu strategis dalam RPJMD. Komitmen ini diharapkan mampu membuat olahraga tradisional tidak hanya bertahan, tetapi juga kembali populer di tengah masyarakat.

“Mari kita jaga bersama olahraga tradisional sebagai warisan budaya yang tak ternilai harganya. Bahkan saya berharap olahraga tradisional bisa rutin digelar di sekolah, misalnya saat class meeting atau perayaan ulang tahun sekolah,” tutupnya. (Zu)