KUKAR IDAMAN SEP 26

Keselamatan Siswa Jadi Sorotan, Dapur MBG Muara Badak Dihentikan Sementara

Keselamatan Siswa Jadi Sorotan, Dapur MBG Muara Badak Dihentikan Sementara
Pembagian MBG dengan kelapa muda oleh SPPG di Muara Badak beberapa waktu lalu. (istimewa)

KUTAI KARTANEGARA – Operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gas Alam Badak Satu di Kecamatan Muara Badak, dihentikan sementara. Setelah muncul kekhawatiran terkait aspek keselamatan siswa dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Penghentian dilakukan setelah tim Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan investigasi di lapangan. Menyusul temuan pemberian buah kelapa dalam kondisi utuh kepada siswa penerima manfaat program tersebut.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar Sunggono mengatakan, keputusan tersebut diambil berdasarkan laporan hasil investigasi awal dari tim BGN yang disampaikan kepada pemerintah daerah.

“Berdasarkan hasil investigasi yang dilakukan oleh tim BGN yang langsung melaporkan kepada saya, memang dinyatakan dihentikan sementara,” ujarnya saat dikonfirmasi di Pendopo Bupati Kukar, Rabu (4/3/2026).

Baca Juga  Lupa Matikan Kompor, Rumah Warga Bontang Baru Nyaris Jadi Abu

Menurutnya, dari sisi kandungan pangan, kelapa sebenarnya memiliki nilai gizi yang baik sehingga tidak menjadi persoalan dalam konteks pemenuhan nutrisi. Namun yang menjadi perhatian adalah potensi risiko ketika siswa harus membuka kelapa tersebut.

Sunggono menjelaskan, siswa berpotensi menggunakan alat tajam seperti pisau untuk membuka buah kelapa. Yang dikhawatirkan dapat menimbulkan risiko cedera.

“Tetapi yang dikhawatirkan itu anak-anak dari berbagai tingkatan ini ketika akan memanfaatkannya harus menggunakan pisau atau alat lain yang bisa berpotensi menimbulkan luka,” jelasnya.

Sunggono menegaskan bahwa dalam standar operasional prosedur (SOP) program MBG, makanan yang diberikan kepada siswa harus dipastikan aman. Serta tidak menimbulkan risiko lain bagi penerima manfaat.

Baca Juga  Bangunan Terbengkalai Unikarta Disorot, DPRD Kukar Desak Segera Dimanfaatkan

Tim investigasi juga telah meminta klarifikasi dari berbagai pihak terkait, mulai dari guru, siswa penerima manfaat, pihak sekolah, hingga pengelola dapur MBG yang bersangkutan.

Dari hasil klarifikasi sementara, pemberian kelapa utuh tersebut diduga bukan merupakan unsur kesengajaan ataupun kelalaian. Langkah tersebut disebut sebagai upaya inovasi dengan memanfaatkan potensi pangan lokal yang tersedia di daerah.

Seluruh hasil investigasi kini telah dilaporkan kepada pemerintah pusat melalui Badan Gizi Nasional untuk menentukan langkah lanjutan. Termasuk kemungkinan pengoperasian kembali dapur SPPG tersebut.

Baca Juga  IKN Masuki Tahap Tender Kawasan Legislatif dan Yudikatif, Rampung 2027

“Nanti pusat yang akan memastikan apakah akan dioperasikan kembali atau tidak. Mudah-mudahan secepatnya, karena kasihan juga anak-anak, apalagi di Muara Badak sendiri hanya ada dua dapur yang masih beroperasi,” tutup Sunggono. (fjr)