PENAJAM PASER UTARA – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Penajam Paser Utara (PPU) Hamdam meminta Pertamina segera menerapkan fuel card. Supaya penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi khususnya jenis solar tepat sasaran.
Hal ini dikatakan Hamdam di sela-sela rapat pengendalian BBM bersubsidi sekaligus menindaklajuti aksi demonstrasi terkait kelangkaan BBM bersubsidi jenis solar beberapa waktu lalu, Selasa (16/8/2022) siang.
Hamdam menyebut sebulan lalu telah bertemu dengan PT Pertamina. Namun hingga saat ini belum ada kejelasan persoalannya apa sehingga fuel card belum selesai juga proses penerbitannya.
“Makanya mahasiswa jadi marah sehingga seolah-olah pemerintah daerah tidak peduli. Padahal sesungguhnya Pemda PPU sangat peduli dan tidak ada niatan untuk tidak memberikan yang terbaik kepada masyarakat terkait BBM bersubsidi ini,” terangnya.
“Kami jelas mendukung upaya PT Pertamina bekerja sama Pemkab PPU dan Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk menerbitkan kartu kendali pembelian BBM subsidi di PPU ini. Sebagai upaya menjawab kelangkaan BBM subsidi dan panjangnya antrean pembelian solar subsidi di PPU,” imbuh Hamdam.
Langkah-langkah pemerintah daerah ini, sambungnya, tujuannya bagaimana penyaluran BBM solar dapat disalurkan secara baik dan tepat sasaran. Cara ini juga untuk membangun komitmen bersama dalam rangka memberikan pelayanan kebutuhan solar subsidi dengan tepat. Sehingga apa yang dikeluhkan selama ini tidak terjadi.
“Memang ini harus kita minimalisasi walaupun mungkin tidak bisa dihilangkan sama sekali,” terang Hamdam.
Menurutnya memang penyaluran BBM bersubsidi ini masih menjadi persoalan. Karena dari data yang ada bahwa kuota solar bersubsidi di PPU sudah melebihi kuota.
Namun yang menjadi pesoalan adalah mengapa kuota BBM yang ada dirasakan sangat langka di Kabupaten PPU.
“Jadi mari kita sama-sama tidak usah mencari alasan bahwa kuota BBM di PPU kurang. Karena semua sudah dihitung sesuai dengan kebutuhan dan pihak pertamina juga telah memiliki data terkait berapa jumlah kebutuhan BBM khususnya solar yang ada di PPU,” ungkap Hamdam.
“Ya antri bolehlah tetapi yang wajar, jangan sampai antre sampai dengan tiga hari, kasihan mereka,” sambungnya.
Hamdam berharap agar persoalanan penjualan BMM solar bersubaidi ini menjadi tugas bersama untuk pengawasannya. Dalam hal ini Hamdam minta secara khusus Satpol PP agar dalam menunggu proses terbitnya fuel card yang diperkirakan butuh waktu dua bulan ke depan itu dapat melakukan pengawasan di masing-masing SPBU di PPU.
“Untuk menunggu proses ini diharapkan juga ada sosialisasi di sana. Dan pengawasan terhadap sistem penjualan BBM bersubsidi tersebut juga harus dilakukan sehingga tidak adanya kecurangan-kecurangan yang terjadi di sana terkait penyalurannya. Saya minta agar Satpol PPU dan pihak-pihak terkait lainnya bisa melakukan pengawasan di sana,” urainya. (xl)












