KUTAI KARTANEGARA – Ketika dunia media digital terus bergerak dengan kecepatan yang nyaris tak terbendung, Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kalimantan Timur pun tengah bersiap melangkah ke babak baru. Sabtu, 11 Mei 2025, aula megah Ruhuy Rahayu di Kantor Gubernur Kaltim akan menjadi saksi bisu pergulatan ide, strategi, dan visi dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-2 SMSI Kaltim.
Sebuah forum strategis yang bukan hanya sekadar ajang pemilihan ketua, tetapi juga panggung untuk merumuskan arah baru bagi ekosistem media siber di Bumi Etam.
Satu per satu perwakilan dari berbagai penjuru Kalimantan Timur akan hadir, membawa suara-suara daerah dan harapan dari ruang redaksi yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kutai Kartanegara, salah satunya. Di bawah komando Ketua SMSI Kukar, Angga Triandi, mereka datang bukan hanya untuk memilih, tetapi untuk ikut menentukan masa depan media siber yang inklusif dan adaptif.
“Kami tidak hanya datang untuk memberi suara, tapi juga membawa semangat perubahan,” ucap Angga Triandi, sehari jelang pelaksanaan Musda. “Kukar siap untuk mengambil peran strategis dalam membangun media yang tangguh, adil, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.”
Empat Arah, Satu Tujuan
Empat nama telah resmi masuk gelanggang pemilihan. Masing-masing membawa corak kepemimpinan yang unik: Wiwid Marhaendra Wijaya dengan suaranya yang lantang untuk penguatan SDM, Jerin dengan semangat digitalisasi dan regenerasi, Yakub Anani dengan ketenangan khas tokoh senior, serta Indra Teguh dari Berau yang mewakili semangat media daerah untuk lebih didengar.
Lebih dari Sekadar Kursi
Di tengah tantangan disinformasi, tekanan ekonomi, hingga stagnasi kualitas konten, harapan terhadap sosok ketua SMSI yang baru sungguh besar. Ketua tidak lagi bisa hanya menjadi simbol administratif. Ia harus menjadi navigator dalam arus digitalisasi yang deras, diplomat yang piawai membangun jejaring, sekaligus penggerak di tengah keterbatasan.
“Ketua harus bisa mengayomi semua—baik media yang besar maupun yang baru merintis. Jangan sampai hanya yang dekat dengan kota yang mendapat perhatian,” tegas Angga.
Ruang yang Bernama Harapan
Ruang Ruhuy Rahayu tidak hanya akan menjadi lokasi Musda, tapi juga cermin dinamika dunia pers di Kaltim. Di sana akan tersusun ulang peta kekuatan, disusun program kerja, dan dideklarasikan komitmen untuk masa depan. Di sanalah media akan menentukan apakah mereka sekadar bertahan, atau benar-benar tumbuh menjadi kekuatan kelima demokrasi.
Bagi Kutai Kartanegara, ini bukan hanya peristiwa organisasi—ini adalah langkah menuju legitimasi suara media lokal. Dan bagi SMSI Kaltim, ini adalah pertaruhan besar: memilih masa depan yang bukan sekadar digital, tetapi juga inklusif, profesional, dan tangguh menghadapi zaman. (Zu)












