KUTAI KARTANEGARA – Upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia terus didorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satunya melalui gagasan menghadirkan sekolah menengah berbasis asrama (boarding school) di seluruh kecamatan.
Program ini dirancang tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga mendorong perusahaan swasta untuk berperan dalam investasi pendidikan jangka panjang. Bupati Kukar Aulia Rahman Basri mengatakan, pola boarding school terbukti efektif diterapkan di berbagai daerah dan dapat menjadi solusi relevan bagi Kukar yang memiliki persebaran perusahaan besar di hampir seluruh kecamatan.
“Dari berbagai referensi yang saya pelajari, model pendidikan boarding school ini sangat cocok diterapkan di Indonesia. Di Kukar sendiri, hampir setiap kecamatan punya perusahaan besar yang bisa ikut berkontribusi,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Aulia, kontribusi perusahaan melalui program tanggung jawab sosial (CSR) selama ini masih bersifat terbatas dan belum menyentuh kebutuhan pembangunan jangka panjang, terutama di sektor pendidikan.
“Kontribusi itu ada, tetapi masih parsial. Bantuan biasanya hanya untuk kelompok atau kegiatan tertentu. Belum ada yang fokus pada pembangunan strategis jangka panjang,” katanya.
Karena itu Pemkab Kukar membuka ruang bagi perusahaan untuk turut menjadi inisiator dalam penguatan sekolah-sekolah unggulan di wilayah operasional mereka. Langkah ini diharapkan tidak hanya mendukung ekonomi masyarakat, tetapi juga menciptakan SDM yang berdaya saing ketika aktivitas perusahaan sudah tidak lagi berjalan.
“Yang ingin kita tinggalkan bukan hanya jejak ekonomi, tetapi juga kualitas manusia. Ketika usaha sudah selesai, masih ada warisan yang bermanfaat bagi daerah,” tegas Aulia.
Dia menambahkan, konsep boarding school berpotensi menciptakan ekosistem pendidikan berkelanjutan. Meskipun awalnya bergantung pada dukungan perusahaan, Aulia meyakini keberadaan alumni yang berhasil akan menjadi bagian penting dalam keberlanjutan sekolah tersebut.
“Di awal mungkin disokong perusahaan sekitar. Tapi saat alumninya sudah banyak, saya yakin mereka akan kembali memberi kontribusi bagi sekolah itu,” tuturnya.
Aulia menegaskan bahwa program ini tidak bertujuan membangun sekolah baru, melainkan melakukan peningkatan kualitas SMA yang telah tersedia. Pengembangan meliputi pembangunan fasilitas asrama, penguatan gizi siswa, penyelarasan kurikulum nasional dan internasional, serta peningkatan kualitas guru.
“Sekolahnya sudah ada. Kita tingkatkan kualitasnya. Bangun asramanya, pastikan gizinya baik, kurikulumnya kuat, dan gurunya berkualitas,” pungkasnya. (fjr)












