Pemprov Kaltim Dorong Pembentukan Kampung Siaga Bencana di Daerah Rawan

Foto : Posko penanggulangan bencana di Kecamatan Loa Janan. (Istimewa)

SAMARINDA – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana alam maupun bencana sosial. Ke depan, seluruh kabupaten/kota diharapkan memiliki Kampung Siaga Bencana (KSB), khususnya di wilayah yang tergolong rawan bencana.

KSB tidak hanya difungsikan sebagai wadah bagi personel Taruna Siaga Bencana (Tagana), tetapi juga sebagai bentuk kolaborasi aktif antara pemerintah dan masyarakat setempat dalam upaya penanganan awal saat terjadi bencana.

Penggerak Swadaya Masyarakat Ahli Pertama Bidang Penanganan Bencana Dinas Sosial Kalimantan Timur, Arif Maulana, menilai keberadaan KSB sangat penting dalam fase awal kedaruratan. Dalam penanganan bencana dikenal istilah golden time, yakni waktu krusial pada awal kejadian yang sangat menentukan keberhasilan evakuasi dan meminimalkan dampak bencana.

Baca Juga  Inspeksi Keselamatan, Dishub Kaltim Klaim 80 Persen Transportasi Mudik Siap Operasi

“Selain melakukan penyelamatan, KSB juga berfungsi sebagai lumbung logistik. Dengan begitu, kebutuhan dasar korban dapat dipenuhi secara mandiri di lokasi kejadian sebelum bantuan dari pusat tiba,” ujar Arif di Samarinda, Selasa (27/1/2026).

Hingga kini, tercatat sebanyak 14 Kampung Siaga Bencana telah terbentuk di sejumlah wilayah strategis di Kalimantan Timur, meliputi Samarinda, Balikpapan, Kutai Timur, Penajam Paser Utara (PPU), Paser, Kutai Barat, dan Kutai Kartanegara.

Seluruh KSB tersebut dilaporkan aktif berkontribusi dalam berbagai penanganan kedaruratan, mulai dari kebakaran permukiman hingga operasi pencarian korban tenggelam.

Baca Juga  Jaringan Eksploitasi Anak di Kukar Terbongkar, Modusnya Perekrutan Tenaga Kerja THM

Pembentukan KSB tidak dilakukan di semua desa, melainkan diprioritaskan pada daerah dengan tingkat kerawanan bencana tinggi serta memiliki unsur relawan Tagana di dalamnya.

Para relawan Tagana diwajibkan memiliki tiga kemampuan dasar, yakni mengelola dapur umum, mendirikan tenda darurat, serta memberikan dukungan psikososial kepada para penyintas bencana.

Pemerintah Provinsi Kaltim juga terus melakukan evaluasi terhadap kinerja Tagana. Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi kemanusiaan mereka yang bekerja tanpa gaji, pemerintah memberikan tali asih.

“Mereka adalah relawan yang terjun langsung ke masyarakat dan menjadi garda terdepan dalam penyelamatan serta pemenuhan kebutuhan dasar warga saat terjadi musibah,” pungkas Arif. (Zu)