KUKAR IDAMAN SEP 26

Mediasi Kasus Bayi Meninggal di Batuah Masih Buntu, Dinkes Kukar Akui Banyak Kekurangan

Mediasi Kasus Bayi Meninggal di Batuah Masih Buntu, Dinkes Kukar Akui Banyak Kekurangan
Mediasi antara keluarga korban dengan Dinkes Kukar terkait dugaan kelalaian pelayan puskesmas di Desa Batuah. (Dok. Istimewa)

KUTAI KARTANEGARA – Mediasi terkait dugaan kelalaian pelayanan kesehatan di Puskesmas Batuah, Kecamatan Loa Janan belum menghasilkan kesepakatan. Pertemuan yang difasilitasi Pemerintah Desa Batuah pada Rabu (25/2/2026) itu justru membuka sederet persoalan mendasar soal kesiapan layanan kesehatan di tingkat puskesmas.

Mediasi yang berlangsung di Kantor Desa Batuah dihadiri keluarga korban, perwakilan puskesmas, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim, Dinas Kesehatan Kukar, Polsek Loa Janan, serta pihak terkait lainnya. Kepala Bidang (Kabid) Pelayanan Kesehatan Dinkes Kukar Waode Nuraida mengakui mediasi menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kebijakan kesehatan.

“Mediasi hari ini membuka mata kita semua. Banyak hal yang harus diperbaiki, baik SDM, kompetensi, maupun peralatan. Ini menjadi masukan besar untuk pembenahan ke depan,” ujar Waode.

Baca Juga  Lahan di Bontang Lestari Kembali Dilalap Si Jago Merah

Dia menegaskan puskesmas sebagai garda terdepan harus siap memberikan pelayanan maksimal. Salah satu masalah yang tersorot adalah keterbatasan tenaga kesehatan.

“Kebutuhan tenaga kesehatan memang masih kurang, termasuk soal sopir ambulans yang tidak tersedia saat dibutuhkan. Itu menjadi evaluasi kami,” tambahnya.

Penasihat hukum keluarga korban, Titus Tibayan Pakalla, menyatakan mediasi belum menghasilkan kesepakatan apa pun.

“Tidak ada pengakuan langsung, tapi ada permintaan maaf. Bagi kami, itu menunjukkan ada kesalahan yang terjadi, termasuk terkait persoalan tabung oksigen,” ujarnya.

Titus menegaskan mediasi bukan akhir dari perkara. Keluarga masih membuka opsi proses hukum.

Baca Juga  Dewan Dukung Revitalisasi Citra Niaga Samarinda

“Kalau unsur kelalaiannya terpenuhi, kami siap menempuh jalur hukum. Mediasi bukan berarti kasus selesai,” tegas Titus.

Sebelumnya, keluarga menjelaskan bahwa bayi berusia enam bulan itu dibawa ke Puskesmas Batuah pada Senin (16/2/2026) karena demam tinggi dan sesak napas. Namun saat regulator dipasang, jarum indikator menunjukkan angka nol yang mengindikasikan tabung oksigen kosong.

Selain itu, tidak ada sopir ambulans ketika kondisi bayi makin kritis. Karena tak mendapat kepastian rujukan, keluarga memutuskan membawa bayi dengan kendaraan pribadi. Dalam perjalanan, nyawa bayi tidak tertolong.

Keluarga menduga ada kelalaian dalam penanganan dan kesiapan fasilitas medis, terutama memastikan ketersediaan oksigen dan kesiapan ambulans.

Baca Juga  Asap Karhutla ke Negara Tetangga, Menhut: Asap Tak Punya KTP

Sementara itu, Dinkes menyatakan komitmen melakukan pembenahan. Namun keluarga menegaskan akan mengawal kasus ini hingga mendapat kejelasan dan perbaikan nyata. (fjr)