KUKAR IDAMAN SEP 26

Identik Simbol Parpol, Jokowi Kritik Cat Desain Arsitektur Sejumlah Daerah

Identik Simbol Parpol, Jokowi Kritik Cat Desain Arsitektur Sejumlah Daerah
Presiden Jokowi membuka Munaslub Apeksi, di Puri Begawan, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/12/2023) pagi. (BPMI Setpres)

BOGOR – Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) mengkritik warna cat pada desain arsitektur pemerintahan di sejumlah daerah. Lantaran warna catnya identik dengan simbol partai politik pengusung kepala daerah setempat.

Kritik tersebut disampaikan Presiden Jokowi saat membuka agenda Musyawarah Nasional (Munas) Luar Biasa Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia (Apeksi) 2023 di Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/12/2023).

“Kadang-kadang kalau masuk ke sebuah kota dari cat-nya saja sudah tahu ini dari partai apa,” ungkapnya.

Jokowi menilai seharusnya setiap daerah menampilkan diferensiasi sesuai dengan karakteristik dari kekuatan potensi yang dimiliki. Dia mencontohkan Ambon yang kuat dengan sektor perikanan, Lampung dengan potensi alam berupa buah nanas atau pisang, dan Tomohon di Manado dengan kekayaan bunganya.

Baca Juga  Komisi IV Tegaskan Tambahan Formasi PPPK Harus Warga Kukar

“Masa warna partai masuk ke kota, nggak nyambung kan. Tetapi dipaksakan karena pemimpinnya dari partai, saya enggak sebut partai apa. Dari partai A, wah langsung catnya ungu – nggak ‘nyinggung’, waduh nggak nyambung, kantor-kantornya Pemkot juga dicat ungu, ini apa toh,” bebernya.

Presiden Jokowi yang rutin mengunjungi berbagai daerah di Indonesia pun sampai hapal dengan partai pengusung kepala daerah di wilayah setempat hanya berdasarkan ornamen warna yang mendominasi di tempat tersebut.

Baca Juga  Perluas Akses Pendidikan, Pemerintah Targetkan Bangun 500 Sekolah Rakyat

“Saya hampir setiap hari ke daerah, oh tahu ini dari partai ini, wali kotanya ini, dari partai ini, termasuk baju yang ini kita pakai sekarang ini,” sebutnya.

Selain tampilan warna yang identik dengan partai politik, Jokowi juga mengkritisi keseragaman semboyan daerah yang mayoritas berawalan “Ber”.

“Kenapa kota kita ini hampir mirip-mirip semuanya, dengan brand yang mirip-mirip semuanya, ‘Berhiber’, ‘Berseri’, pokoknya pakai ‘Ber’, karena Bersih, banyak diambil ‘Ber’-nya, semuanya ‘Ber’, ‘Ber’, ‘Ber’ semuanya. Kenapa harus seperti itu,” tanyanya. (xl)