KUTAI KARTANEGARA – Seorang pria terlantar dalam kondisi sakit dievakuasi oleh relawan gabungan dari Loa Duri Ulu dan Ilir ke Dinas Sosial (Dinsos) Kutai Kartanegara, Senin (6/4/2026) sore. Pria berinisial S (54), warga Desa Loa Duri, Kecamatan Loa Kulu itu, selanjutnya dirujuk ke RSUD AM Parikesit untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.
Salah satu relawan, Hendra, mengungkapkan bahwa kondisi S saat pertama ditemukan sangat memprihatinkan. Dia menyebut korban sudah tidak mampu mengurus diri sendiri.
“Saya lihat kondisinya sudah buang hajat di atas kasur, makanannya juga tidak dimakan. Kami langsung ambil tindakan membersihkan dan koordinasi dengan RT serta warga,” ujarnya.
Hendra juga menyampaikan bahwa korban diketahui memiliki beberapa anak. Termasuk satu anak yang masih berusia sekitar 9 tahun dan tidak lagi bersekolah.
“Informasi dari warga sekitar, anaknya ada lima, tetapi yang kecil ini tidak sekolah lagi. Yang lain kami belum tahu keberadaannya,” tambahnya.
Hendra menjelaskan, keputusan membawa S ke Dinsos diambil setelah upaya koordinasi dengan pemerintah desa tidak membuahkan solusi penanganan di lokasi.
“Kami sudah koordinasi dengan kades dan pihak setempat, tapi tidak ada yang merawat. Jadi kami ambil langkah membawa ke Dinsos,” jelasnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kukar Sunarko memastikan bahwa S bukan termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), melainkan mengalami depresi.
“Dari hasil pemeriksaan awal Puskesmas, tekanan darahnya normal. Kondisinya linglung karena depresi setelah istrinya meninggal,” terangnya.
Sunarko menambahkan, kondisi tersebut diperkirakan sudah berlangsung selama beberapa minggu. Di mana korban mulai kehilangan kesadaran dalam aktivitas sehari-hari, termasuk makan dan kebersihan diri.
Meski kapasitas shelter Dinsos sedang penuh, pihaknya tetap menerima S karena tidak ada pihak yang dapat merawatnya di rumah.
“Awalnya kami sarankan tidak dibawa ke sini karena shelter penuh. Tetapi karena tidak ada yang merawat, akhirnya kami terima dan langsung koordinasi dengan rumah sakit untuk penanganan,” jelasnya.
Sunarko menyebut, setelah kondisi kesehatan korban membaik, pihaknya akan melakukan asesmen lanjutan untuk kemungkinan dirujuk ke panti rehabilitasi sosial tingkat provinsi. Selain itu, Dinsos juga memberi perhatian pada kondisi anak korban yang masih usia sekolah.
“Kami minta relawan membantu memotivasi anaknya agar kembali sekolah. Kalau tidak ada yang mengurus, nanti akan kami rujuk ke panti sosial di provinsi yang menangani anak dari keluarga kurang mampu,” pungkasnya. (fjr)












