Ratusan Hektare Sawah di Rapak Lambur Gagal Panen, Bupati Kukar Lakukan Ini

Ratusan Hektare Sawah di Rapak Lambur Gagal Panen, Bupati Kukar Lakukan Ini
Bupati Kukar Aulia Rahman Basri saat menyerahkan bantuan di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong. (fajar/komparasinews)

KUTAI KARTANEGARA – Sebanyak 148 hektare lahan sawah di Desa Rapak Lambur, Kecamatan Tenggarong, mengalami gagal panen akibat banjir yang terjadi. Dampak ini dirasakan langsung ratusan warga yang menggantungkan hidup di sektor pertanian.

Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Aulia Rahman Basri menyampaikan, total lahan terdampak mencapai 342,25 hektare, dengan sebagian besar mengalami kerusakan berat. Bencana ini memengaruhi 153 kepala keluarga atau 542 jiwa.

Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah menyalurkan bantuan beras sebanyak 9.756 kilogram kepada warga terdampak. Selain itu, disiapkan pula 1.250 kilogram benih padi untuk mendukung masa tanam berikutnya.

Baca Juga  TNI Hadang Penyelundupan Ballpress Ilegal di Nunukan

“Bantuan ini diharapkan bisa membantu kebutuhan dasar warga sekaligus mendukung keberlanjutan pertanian,” ujarnya.

Pemerintah daerah juga menyatakan akan menindaklanjuti kebutuhan lain yang diperlukan petani, terutama untuk mempercepat proses pemulihan pascabanjir.

Sementara itu Kepala Desa Rapak Lambur Muhammad Yusuf menjelaskan, banjir di wilayahnya kerap terjadi akibat luapan Sungai Mahakam. Ketinggian air dapat mencapai 50 hingga 80 sentimeter dan merendam lahan dalam waktu singkat. Dia menyebut genangan air bahkan bisa bertahan hingga empat bulan, sehingga mengganggu siklus tanam dan berdampak pada produksi pertanian.

Baca Juga  Bikin Bangga Kutim, Dera Fiorentina Juara 1 Dinda Duta Budaya Kaltim

Menurutnya, selain bantuan pangan dan benih, petani juga membutuhkan dukungan infrastruktur seperti perbaikan irigasi, alat dan mesin pertanian, serta penguatan tanggul untuk mengurangi risiko banjir.

“Kondisi pompa air juga sudah lama dan tidak optimal, karena merupakan bantuan lama,” ujarnya.

Yusuf berharap adanya penanganan jangka panjang, terutama terkait pengendalian banjir, agar kejadian serupa tidak terus berulang dan merugikan petani. (fjr)