NAMA Aulia Rahman Basri, calon bupati (Cabup) Kutai Kartanegara (Kukar) yang akan bertarung dalam Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024 pada 19 April mendatang kembali jadi perbincangan. Kali ini lantaran pemeriksaan kesehatannya yang menunjukkan hasil tak biasa.
Hasil pemeriksaan psikologi resmi yang dikeluarkan RSUD Aji Muhammad Parikesit Tenggarong mengungkap Aulia memiliki tingkat kecerdasan atau IQ yang masuk kategori “sangat superior”. Hasil ini merupakan pencapaian yang hanya dimiliki sekira 2 persen populasi dunia.
Artinya, Aulia yang memiliki latar belakang dokter ini berada dalam kelompok elite secara intelektual, dengan kemampuan menganalisis, memahami, dan menyelesaikan persoalan pada tingkat yang jauh di atas rata-rata. Pria asal Kota Bangun ini menyatakan, hasil itu mengafirmasi apa yang selama ini telah diam-diam tumbuh dalam dirinya yaitu kapasitas intelektual luar biasa yang kini siap ia dedikasikan untuk tanah kelahirannya, Kukar.
Diketahui, hanya sekira 2 persen populasi memiliki IQ 130 atau lebih adalah berdasarkan distribusi normal (kurva lonceng) yang digunakan dalam pengukuran IQ. Skor IQ dirancang dengan rata-rata 100 dan standar deviasi 15 (pada skala Wechsler atau Stanford-Binet yang umum).
Dalam distribusi ini, skor 130 berada pada persentil 98, yang berarti hanya sekitar 2 persen orang di populasi umum mencapai atau melampaui angka tersebut. Kategori ini dikenal sebagai kelompok dengan “very superior intelligence” dalam klasifikasi psikologi.
Mereka umumnya mampu menyerap informasi kompleks dengan cepat, berpikir strategis, serta mengambil keputusan berbasis analisis mendalam—kemampuan yang sangat relevan bagi seorang pemimpin daerah.

Namun demikian, kecerdasan itu tak pernah menjadi alat untuk Aulia menyombongkan diri. Malahan dia tumbuh dari sosok siswa yang tenang, jarang bicara, tapi menyimak dengan cermat. Sebagaimana kesaksian Syaidah, guru Bahasa Inggris di SMAN 8 Samarinda—tempat Aulia menempuh pendidikan menengah atas.
“Anaknya itu masuk kategori pendiam. Tapi saat sesi belajar dia aktif. Ketika ditanya, dia menjawab. Saat berdiskusi, dia nyambung. Dia juga enak diajak kerja kelompok,” kenang Syaidah.
Syaidah berkisah, Aulia sebagai siswa bukan hanya pintar dalam akademik, melainkan juga menunjukkan bakat kepemimpinan sejak muda. Wakil Ketua Umum PDI Perjuangan Kukar itu tercatat pernah menjabat sebagai Ketua OSIS, posisi yang membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan berorganisasi—tetapi juga integritas dan tanggung jawab.
“Dia antusias dalam belajar. Bukan yang suka tampil-tampil, tapi punya semangat tinggi. Terbukti bisa masuk Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin lewat jalur PMDK,” ungkap Syaidah.
PMDK, atau Penelusuran Minat dan Kemampuan, adalah jalur seleksi tanpa tes yang hanya diberikan kepada siswa dengan rekam jejak akademik dan non-akademik istimewa. Itu menjadi bukti lain bahwa Aulia tak hanya cerdas, tapi konsisten menapaki jalur prestasi sejak awal.
Kini dengan hasil tes psikologi yang menunjukkan mood stabil (euthymia), pemikiran realistis, sikap kooperatif, dan tidak adanya indikasi gangguan kepribadian, Aulia berada dalam posisi yang sangat siap secara psikologis untuk mengemban tanggung jawab besar sebagai pemimpin daerah.
Di tengah iklim politik yang semakin kompleks, kehadiran figur seperti Aulia Rahman Basri—yang cerdas secara kognitif, stabil secara emosional, dan matang secara sosial—menawarkan harapan akan lahirnya model kepemimpinan baru yang berbasis pada kapasitas intelektual dan integritas pribadi.
“Walaupun sudah menjadi pemimpin, tetaplah seperti ilmu padi. Semakin berisi, semakin menunduk,” pesan Syaidah. (xl)
slot gacor hari ini situs togel situs slot situs slot bento4d bandar togel slot thailand











