Nyepi di Tenggarong Seberang Jadi Ajang Silaturahmi, Umat Hindu Soroti Kebutuhan Dukungan Budaya

Nyepi di Tenggarong Seberang Jadi Ajang Silaturahmi, Umat Hindu Soroti Kebutuhan Dukungan Budaya
Perayaan Puncak Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang. (fajar/komparasinews)

KUTAI KARTANEGARA — Perayaan puncak Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 di Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Jumat (3/4/2026), tidak hanya menjadi momentum keagamaan. Tetapi juga ruang mempererat hubungan sosial antarumat dan dengan pemerintah.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Kerta Buana Made Susana mengatakan kegiatan tersebut menjadi ajang silaturahmi yang memperkuat keharmonisan di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya perayaan keagamaan, tetapi juga kesempatan untuk mempererat hubungan, baik antarumat Hindu maupun dengan pemerintah,” ujarnya.

Made menyebut, saat ini terdapat sekitar 411 kepala keluarga (KK) yang aktif dalam kegiatan adat di Desa Kerta Buana. Secara keseluruhan, jumlah umat Hindu di wilayah tersebut mencapai lebih dari 2.000 KK, yang sebagian besar merupakan transmigran asal Bali sejak sekitar tahun 1980.

Baca Juga  Isu Kelangkaan Energi Mencuat, Distribusi LPG 3 Kg di Kukar Tetap Normal

Menurutnya, hampir seluruh kabupaten di Bali memiliki perwakilan warga di desa tersebut, sehingga keberagaman latar belakang budaya tetap terjaga dalam kehidupan masyarakat.

Dalam momentum itu, Made juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya, khususnya melalui pembuatan ogoh-ogoh yang menjadi bagian dari rangkaian perayaan. Namundia mengungkapkan bahwa biaya produksi ogoh-ogoh tergolong tinggi.

“Untuk satu ogoh-ogoh dengan kualitas baik, biayanya bisa mencapai Rp25 juta hingga Rp50 juta, tergantung tingkat kerumitan,” jelasnya.

Baca Juga  Kasus PHK Tanpa Pesangon di Sebulu Terungkap, Diduga Libatkan Ratusan Pekerja

Karena itu, pihaknya berharap adanya perhatian dan dukungan dari pemerintah daerah agar tradisi tersebut dapat terus dilestarikan tanpa membebani masyarakat. Selain itu dia juga menyampaikan harapan terkait pembangunan tempat ibadah yang telah berdiri selama puluhan tahun namun belum sepenuhnya rampung.

“Kami berharap ada dukungan agar tempat ibadah ini bisa diselesaikan dan dimanfaatkan secara optimal oleh umat,” katanya.

Perayaan Nyepi di Kerta Buana, sambung Made, juga mencerminkan upaya menjaga nilai-nilai spiritual sekaligus mempertahankan warisan budaya di tengah dinamika masyarakat transmigran. (fjr)