KUKAR IDAMAN SEP 26

“Mulutmu yang Besar…” Pesan WA Grup DPRD Kaltim Picu Adu Emosi Reza Fachlevi–Syahariah Mas’ud

Foto : Ketegangan antara Akhmed Reza Fachlevi dan Syahariah Mas’ud mencuat dalam rapat konsultasi DPRD Kaltim usai polemik pesan WhatsApp Grup. (Siaran langsung rapat konsultasi DPRD Kaltim)

SAMARINDA – Rapat DPRD Kalimantan Timur, Senin (4/5/2026) malam, berubah panas. Adu argumen antara Wakil Ketua Fraksi Gerindra, Akhmed Reza Fachlevi, dan Anggota Fraksi Golkar, Syahariah Mas’ud, memicu ketegangan di ruang sidang.

Perselisihan dipicu pesan singkat Syahariah di grup WhatsApp DPRD Kaltim yang dinilai bernada personal. Pesan tersebut sempat dibacakan langsung oleh Reza dalam forum rapat.

“Mulutmu yang besar kenapa sembunyi di dalam demo. Apa maumu lah,” bunyi pesan yang dipersoalkan.

Reza menilai isi pesan itu tidak mencerminkan etika komunikasi antaranggota dewan. Dengan nada emosional, ia menegaskan keberatannya.

Baca Juga  DPRD Kukar Dinilai Abaikan Regulasi Perlindungan Perempuan Korban Kekerasan Seksual

“Saya dibesarkan tidak pernah diajarkan berucap seperti itu. Ini menyangkut etika dan marwah keluarga saya,” ujarnya dalam rapat yang disiarkan langsung Youtube DPRD Kaltim.

Ia menegaskan, grup WhatsApp DPRD seharusnya menjadi ruang komunikasi kedinasan, bukan tempat melontarkan pernyataan personal. Menurutnya, hal tersebut berpotensi melanggar kode etik hingga aturan perundang-undangan.

“Grup itu forum kedinasan DPRD untk menjunjung dan menghormati antarsesama anggota bukan untuk merendahkan personal,” tegasnya.

Reza juga menyatakan akan membawa persoalan ini ke Badan Kehormatan (BK) DPRD Kaltim melalui laporan resmi.

Di sisi lain, Syahariah Mas’ud tidak membantah isi pesan tersebut. Ia mengakui ucapannya dipicu rasa kecewa terhadap sikap Fraksi Gerindra, khususnya Reza, dalam menyikapi aksi massa terkait dorongan hak angket.

Baca Juga  Alami Kanker Usus, Anggota DPRD Kukar Burhanudin Meninggal Dunia

Menurutnya, Reza merupakan salah satu pihak yang paling aktif mendorong hak angket dalam rapat internal. Namun saat menghadapi massa aksi, ia menilai sikap tersebut tidak konsisten.

“Saya kecewa. Saat kami sudah siap, semua fraksi tidak ada yang muncul kecuali Partai Golkar. Maaf kalau saya sedikit agak keras,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa ucapannya bukan bermaksud menyerang secara pribadi, melainkan bentuk kekecewaan atas dinamika yang terjadi.

Baca Juga  Pemerintah Diharapkan Beri Edukasi Soal Obat

Ketegangan sempat meningkat ketika kedua pihak saling menanggapi dengan nada tinggi. Sejumlah anggota dewan lainnya kemudian turun tangan untuk meredam situasi hingga rapat kembali kondusif. (zu)