KUKAR IDAMAN SEP 26

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa dan Jurnalis Soroti Isu Lingkungan hingga Hak Masyarakat Adat

Nobar “Pesta Babi” di Unikarta, Mahasiswa dan Jurnalis Soroti Isu Lingkungan hingga Hak Masyarakat Adat
Suasana nonton bareng film dokumenter “Pesta Babi” di kantin Unikarta, Sabtu (9/5/2026) malam. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA — Mahasiswa dan insan pers di Kutai Kartanegara (Kukar) menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi di Kecamatan Tenggarong, Sabtu (9/5/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung sederhana di kantin Universitas Kutai Kartanegara Unikarta) itu diinisiasi Wahana Mahasiswa Pecinta Alam bersama Serikat Media Siber Indonesia Kukar.

Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Dale itu mengangkat dampak ekologis dan sosial akibat proyek pembangunan dan industri di Papua. Ketua SMSI Kukar Angga Triandi mengatakan, isu dalam film dinilai relevan dengan kondisi di sejumlah wilayah di Kaltim, termasuk kawasan sekitar Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Seperti di sekitar IKN, masyarakat menyebut program belum memberikan solusi terhadap masyarakat yang terdampak. Di Kecamatan Kota Bangun Darat juga masyarakat adat menyuarakan terkait wilayah pangan dan lahan adat yang dikelilingi konsesi tambang,” ujarnya.

Baca Juga  Tradisi dan Semangat Kebersamaan Warnai Festival Hudoq Pakayang di Mahakam Ulu

Menurut Angga, pers memiliki tanggung jawab sebagai kontrol sosial untuk mengawal isu lingkungan dan menyuarakan kondisi masyarakat terdampak melalui produk jurnalistik.

“Karena pada dasarnya ini adalah tugas kita sebagai penyambung lidah masyarakat melalui produk jurnalistik kita,” kata Angga.

Sementara itu, Ketua Wamapala Unikarta Dani Almadani berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan. Dia menilai persoalan ekologis kini bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan masyarakat Kukar.

“Semoga melalui nobar ini seluruh pemuda di Kukar dapat lebih peduli terhadap isu lingkungan,” tuturnya.

Baca Juga  Iran Tegaskan Ingin Akhiri Perang dengan Syarat Sendiri

Usai pemutaran film, mahasiswa dan jurnalis melanjutkan diskusi ringan mengenai relasi pembangunan, lingkungan, dan hak masyarakat adat. Ketua BEM Unikarta Zulkarnain menyebut film tersebut menjadi pengingat bahwa ruang hidup masyarakat tidak semestinya dikorbankan demi kepentingan tertentu.

“Ironis jika apa yang menjadi hak masyarakat justru diambil guna menguntungkan segelintir orang,” katanya.

Pandangan serupa juga disampaikan wartawan Komparasinews.id, Habib Fajar Saputra. Dia menilai pesan dalam film dapat menjadi refleksi bagi masyarakat Kukar agar lebih kritis terhadap isu lingkungan dan kebijakan pembangunan.

“Apa yang terjadi di Papua bisa saja terjadi di kita. Maka kita mesti membuka lagi wawasan kita untuk terus sadar dan peduli terhadap lingkungan kita dan mengontrol semua kebijakan pemerintah,” katanya.

Baca Juga  Fiskal Terbatas, Pemkab Kukar Pilih Efisiensi Tanpa Pangkas Belanja Pegawai

Melalui pemutaran film tersebut, mahasiswa dan insan pers di Kukar menegaskan bahwa isu lingkungan dan keberlanjutan bukan hanya persoalan satu daerah. Melainkan isu bersama yang perlu terus mendapat perhatian publik. (fjr)