Rofik Apresiasi Adaptation Fund di Samarinda

Rofik Apresiasi Adaptation Fund di Samarinda
Abdul Rofik (dua dari kanan) dalam acara Adaptation Fund. (istimewa)

SAMARINDA – Samarinda menjadi salah satu kota yang terpilih untuk implementasi proyek adaptasi perubahan iklim (Adaptation Fund). Proyek ini sendiri merupakan program yang membantu masyarakat rentan di negara berkembang untuk beradaptasi dengan perubahan iklim yang didirikan berdasarkan protokol Kyoto dari konvensi kerangka kerja PBB tentang perubahan iklim (UNFCCC).

Kota Samarinda sendiri disetujui AF akhir 2021 lalu sebagai tempat implementasi proyek adaptasi perubahan iklim, melalui kemitraan sebagai “national implementing entity” yang akan dilaksanakan oleh Pusat Studi Ketahanan Iklim Kota, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dan School of Architecture and Build Environment, Faculty of Engineering, Queensland University of Technology sebagai “executing entitles” dan didukung oleh UN-Habitat Global Public Space Program.

Baca Juga  Pemerintah Didesak Bertindak Cepat Atasi Krisis Air Bersih di Sejumlah Daerah

Komisi II DPRD Samarinda yang diwakili Abdul Rofik mengapresiasi proyek Adaptation Fund (AF). Karena menjadikan Samarinda sebagai salah satu lokasi percontohan program tersebut.

“Kami berterima kasih dan mengapresiasi atas inisiasi adanya proyek AF oleh pihak-pihak terkait terkhusus kepada Adaptation Fund dan Direktur Pusat Studi Ketahanan Iklim Kota Untag Surabaya,” ucap Rofik.

Menurut Rofik, untuk mendukung suksesnya program AF ini, diharapkan peran serta dari masyarakat untuk bersama-sama mengawasi, menjaga, serta merawat lingkungan sekitar dalam meminimalisasi dampak perubahan iklim yang terjadi.

Baca Juga  Koperasi Kaltim Diarahkan Bergerak di Luar Usaha Simpan-Pinjam

Sementara itu Associate Professor At The Queensland University Of Technology Mirko Guaralda menjelaskan, project tersebut merupakan projek multidisipliner, tidak hanya menyangkut perubahan iklim tapi juga menyangkut aspek ekonomi dan aspek lain yang terkait.

“Ini yang menjadi dorongan AF untuk menyetujui proyek ini. Karena ini the only one in AF Pipelines. Dengan menggunakan Kerangka teori Positive Development, perspektif ini digunakan sebagai titik tolak bahwa pembangunan dengan manusia sebagai pusatnya, di mana pertanyaan mendasarnya adalah, bagaimana manusia dapat merasakan dampak pembangunan melalui ruang publik yang ramah,” tutupnya. (ded)