SAMARINDA – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim melalui Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Penataan Ruang (PUPR dan Pera) sudah melakukan langkah-langkah terukur dalam membantu penanganan banjir di ibu kota provinsi, Samarinda. Khususnya dalam normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM) secara menyeluruh.
Dalam hal ini Pemprov bekerja sama Korem 091/Aji Suryanatakesuma melalui Swakelola Tipe II serta berkolaborasi Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam hal penyelesaian dampak sosial.
Kepala Dinas PUPR dan Pera Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda pada Kamis (12/1/2023) menjelaskan, penyelesaian dampak sosial salah satunya terkait pembebasan kawasan bantaran sungai yang selama ini banyak didiami masyarakat. Pembebasan kawasan dimaksudkan agar proses pengerukan sampah dan lumpur sungai akan lebih mudah.
Pasalnya diyakini banjir yang sering terjadi juga akibat pendangkalan gara-gara sampah yang dibuang ke sungai dan rumah-rumah yang berdiri di atas sungai.
“Untuk penyelesaian dampak sosial pada tahun 2019, Pemprov Kaltim telah memberikan bantuan keuangan atau bankeu sebesar Rp10 miliar kepada Pemerintah Kota Samarinda,” ungkap Nanda, panggilan karibnya.
Bukan hanya penyelesaian masalah sosial, Pemprov turut mengucurkan dana miliaran rupiah untuk normalisasi Sungai Karang Mumus. Malahan untuk program pengendalian banjir melalui normalisasi Sungai Karang Mumus ini selama empat tahun berturut-turut sejak 2019 hingga 2022, Pemprov tiada henti memberikan alokasi untuk penanganan banjir Samarinda dan berlanjut hingga 2023.
“Progres penanganan normalisasi Sungai Karang Mumus sampai dengan tahun 2022 telah mencapai 70 persen atau sekira 12 km dari panjang sungai 17 km,” beber Nanda.
Kata dia, penanganan yang dilakukan telah memiliki dampak sangat positif. Luasan genangan banjir, tinggi areal genangan, dan durasi waktu genangan banjir mengalami penurunan signifikan.
Seperti kejadian banjir pada Juni 2019 dengan limpahan benanga TMA 75 luas genangan banjir mencapai 10,97 km2. Ketika itu sejumlah kawasan seperti Perumahan Bengkuring, Gunung Lingai/Perumahan Griya Mukti, kawasan Sempaja, Jalan Pemuda, Jalan Remaja dan Simpang Mall Lembuswana dan sekitarnya tergenang banjir selama lima sampai tujuh hari.
Malahan banjir saat ini melumpuhkan beberapa ruas jalan di Kota Tepian. “Dibandingkan dengan intensitas hujan tinggi pada November 2022 lalu, luas genangan, tinggi genangan, dan durasi genangan sudah jauh lebih terkendali,” tegas Nanda. (xl)












