KUKAR IDAMAN SEP 26

Benturan Regulasi IKN Bikin IUP Tersendat, 2027 Diprediksi Terjadi PHK Massal

KUTAI KARTANEGARA — Ekonomi di lima kecamatan penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) melemah. Gara-gara benturan regulasi antara Undang-Undang IKN dengan aturan sektoral.

Benturan ini membuat Muara Jawa, Sangasanga, Loa Janan, Samboja, dan Samboja Barat yang selama ini hidup dari tambang kini berada di ujung tanduk. Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja masal sudah di depan mata.

Camat Samboja Barat Burhanuddin menyebut, banyak aturan Otorita IKN yang berbenturan dengan UU Kehutanan, pertanahan, hingga pemerintahan daerah. Dampaknya paling dirasakan warga yang sudah menetap turun-temurun di kawasan Tahura.

“Menurut saya, Undang-Undang IKN ini banyak berbenturan dengan aturan lain, mulai dari pertanahan, kehutanan, sampai pemerintahan daerah,” ujar Burhanuddin.

Dia mengaku sudah menyampaikan ke OIKN agar dibedakan antara warga lama dengan perambah baru. “Kalau warga kami yang sudah tinggal di sana sejak orang tuanya, lahir dan besar di sana, jangan langsung diperlakukan sama,” tegas Burhanuddin.

Kebingungan bertambah karena sasaran penertiban Satgas terus melebar. Surat awal hanya membatasi Kilometer 46–56, kini aksi bergeser ke Kilometer 39. “Kenapa penertiban sampai bergeser ke Kilometer 39,” ujarnya.

Baca Juga  Didukung IKN, Pertumbuhan Ekonomi Kaltim Tahun Ini Diproyeksikan Tetap Tumbuh Positif

Pernyataan Ketua Komisi II DPR RI Muhammad Rifqinizamy Karsayuda menjadi pegangan baru pemerintah kecamatan. “Jika masyarakat memang sudah menetap lama di kawasan itu, maka yang dikeluarkan seharusnya status kawasannya, bukan warganya,” kata Burhanuddin mengutip Rifqinizamy.

Dia mengingatkan, jika IUP tidak diperpanjang karena syarat rekomendasi OIKN, maka PHK masal tidak bisa dihindari. “Kalau IUP tidak bisa diperpanjang, otomatis perusahaan berhenti. Nanti yang kena PHK masal itu bukan hanya karyawan perusahaan, tapi juga tenaga kontraktor dan warga yang bergantung pada rantai ekonomi tambang,” ujar Burhanuddin.

Dampak ekonomi paling nyata terjadi di sektor tambang. PT Globalindo Inti Energi di Muara Jawa dan Sangasanga terpaksa memangkas produksi karena hampir seluruh IUP 3.300 hektare-nya masuk kawasan OIKN.

“Ini sudah bukan isu lagi, tetapi sudah menjadi kenyataan saat ini,” kata Wakil Kepala Teknik Tambang PT Globalindo Inti Energi, Rizal Aspriani.

Produksi ditekan, ekspansi dihentikan. Saat ini perusahaan masih menahan 300 pekerja tanpa PHK. Namun 2027 disebut sebagai tahun kritis. “Kalau dampak yang lebih besar kemungkinan akan mulai kami rasakan pada 2027,” kata Rizal.

Baca Juga  Timbulkan Polemik, Menko Polhukam Jamin Uang Tetap Aman Meski Rekening Diblokir PPATK

Simpul masalah ada di perizinan. Semua izin seperti TPS kini harus lewat sistem OIKN. “Dahulu proses perizinan cukup melalui satu instansi. Sekarang harus melalui tahapan tambahan dalam sistem yang berkaitan dengan IKN. Itu yang menjadi kendala,” ucapnya.

Keresahan perusahaan berhimpun dalam Forum Komunikasi IUP-IKN. Forum mencatat 15.080 tenaga kerja berpotensi terdampak. 1.070 orang di antaranya sudah kehilangan pekerjaan sejak awal 2026. Jika dihitung keluarga, angkanya bisa 50.000–60.000 jiwa.

“Mayoritas pekerja merupakan warga lokal Kalimantan Timur dengan porsi 60 hingga 80 persen di setiap perusahaan,” ujar Perwakilan Pekerja, Gendut Supriyanto.

Efek berantainya terasa sampai warung, laundry, bengkel, catering, hingga angkutan karyawan di Muara Jawa, Samboja, Loa Janan, hingga Loa Kulu. “Kalau satu karyawan menanggung satu keluarga, hitungannya bisa 50.000 sampai 60.000 orang,” kata Gendut.

Para pekerja menyatakan siap mengawal. “Mau 5.000 karyawan siap, mau 10.000 karyawan juga siap,” tegas Gendut.

“Jangan sampai dengan adanya IKN justru memengaruhi kesejahteraan karyawan dan warga yang bergantung pada pertambangan,” tegas Gendut.

Baca Juga  Pemkab Paser Terus Dorong Pengembangan dan Pemasaran Produk Lokal

Koordinator Forum, Suharto Pawelloi, menyebut investasi baru ditunda dan beberapa kontraktor sudah mengurangi jam kerja. “Kepastian hukum jadi kabur. Bank menahan diri memberi modal. Karyawan mulai bertanya soal masa depan kerja,” katanya.

Forum telah bertemu Kemenko Perekonomian, ESDM, pemerintah daerah, dan OIKN sejak Maret 2026. Opsi yang didorong: Surat Keputusan Bersama yang menjembatani UU Minerba dengan aturan IKN. Pertemuan ketiga dijadwalkan pekan ketiga Juli 2026 di IKN.

“Mudah-mudahan pertemuan di sana menjadi ketuk palu keberhasilan perjuangan kami,” ujar Soeharto. (xl)