KUTAI KARTANEGARA – Realisasi investasi di Kutai Kartanegara (Kukar) turun menjadi sekitar Rp12 triliun hingga Rp12,5 triliun pada 2025, dari sekitar Rp16 triliun pada 2024. Pergeseran investasi ke kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan kendala di sektor pertambangan disebut menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi penurunan tersebut.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kukar Alfian Noor mengatakan, penurunan realisasi investasi tidak berarti target tahunan gagal dicapai. Sebab realisasi pada 2025 masih melampaui target yang ditetapkan sekitar Rp7,3 triliun.
Pada 2024, realisasi investasi Kukar mencapai sekitar Rp16 triliun, jauh di atas target sebesar Rp7 triliun. “Target tidak tercapai, tetapi pertumbuhannya yang tidak tercapai,” ujar Alfian, Jumat (16/10/2026).
Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi penurunan investasi adalah pergeseran minat investor ke kawasan IKN. Sejumlah wilayah Kukar, terutama Samboja dan Muara Jawa, sebelumnya menjadi penyumbang investasi yang cukup besar.
“Pertama, ada beberapa wilayah atau daerah kita yang memang menyumbang banyak investasi, sekarang sudah pindah ke IKN,” jelasnya.
Selain pergeseran investasi, sektor pertambangan turut memengaruhi capaian investasi Kukar. Alfian menyebut kendala penerbitan dan pengurangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) membuat sebagian perusahaan menghadapi hambatan dalam mengembangkan usaha.Kondisi tersebut berdampak pada rencana pengembangan kegiatan pertambangan yang selama ini menjadi salah satu kontributor investasi di Kukar.
“Berarti itu saat ini ada yang RKAB tidak terbit, masih menunggu RKAB, ada yang dikurangi dan sebagainya. Sehingga mereka dalam pengembangan usahanya juga agak terhambat,” katanya.
Alfian menilai capaian investasi pada 2024 menjadi pembanding yang cukup tinggi bagi tahun berikutnya. Dengan realisasi mencapai sekitar Rp16 triliun, nilai investasi pada 2025 belum mampu menyamai capaian tersebut meskipun masih berada di atas target tahunan.
Ke depan, perkembangan investasi Kukar akan dipengaruhi kemampuan daerah mempertahankan minat investor di tengah pergeseran aktivitas ekonomi ke IKN serta dinamika sektor pertambangan. (fjr/adv)












