PALANGKA RAYA – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Palangka Raya, Kalimantan Tengah, menjadi beban bagi warga yang harus menjalani aktivitas sehari-hari di tengah kualitas udara yang tidak sehat.
Seorang warga Palangka Raya, Winney Amiani, mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut melalui sebuah video yang direkam pada Rabu (14/10/2026). Ia menggambarkan bagaimana kabut asap berkepanjangan memengaruhi kehidupan masyarakat, terutama mereka yang tidak memiliki pilihan untuk membatasi aktivitas di luar rumah.
Winney menyebut dirinya masih beruntung karena memiliki kesempatan mengurangi kegiatan di luar ruangan dan melindungi diri dari paparan asap. Namun, menurutnya, kondisi itu tidak dialami semua orang.
Ada warga yang tetap harus bekerja di luar ruangan demi memenuhi kebutuhan hidup. Ada pula orang tua yang harus membawa anak-anak beraktivitas di tengah udara yang tidak sehat karena keterbatasan pilihan.
“Saya kecewa. Karena udara bersih, sesuatu yang seharusnya menjadi hak seluruh manusia, justru terasa seperti sebuah privilege,” ungkap Winney dalam video yang diunggah melalui akun instagramnya @wyamiani.
Baginya, persoalan kabut asap bukan hanya menyangkut kondisi lingkungan, tetapi juga ketimpangan kemampuan masyarakat dalam melindungi kesehatan mereka.
Winney menilai, tidak semua warga memiliki akses terhadap udara bersih di dalam rumah. Sementara itu, tuntutan ekonomi membuat sebagian masyarakat tetap harus beraktivitas di luar meski terpapar asap.
Ia juga menyayangkan jika kondisi yang berlangsung berbulan-bulan tersebut akhirnya dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Menurutnya, masyarakat tidak seharusnya dipaksa beradaptasi dengan persoalan yang semestinya ditangani hingga ke akar penyebabnya.
“Dan yang paling mengecewakan bukan hanya perihal kabut asap itu sendiri, melainkan perasaan bahwa penderitaan masyarakat menjadi sesuatu yang harus dimaklumi, ditoleransi dan akhirnya dianggap biasa,” ujarnya.
Winney menegaskan, masyarakat tidak seharusnya terus-menerus belajar bertahan di tengah udara yang tidak sehat. Ia berharap persoalan kabut asap tidak dipandang sebagai gangguan sementara yang tinggal menunggu waktu untuk berlalu.
“Bagi kami, ini bukan sekadar kabut yang akan berlalu. Ini tentang kesehatan, kehidupan dan hak kami untuk menghirup udara yang bersih,” tegasnya. (zu)












