KUTAI KARTANEGARA — Di tengah kondisi cuaca panas dan hujan yang belum kunjung turun, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar Salat Istisqa dan doa bersama di halaman Kedaton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Tenggarong, Rabu pagi (16/9/2026).
Salat untuk memohon turunnya hujan tersebut dirangkaikan dengan Haul Jamak untuk mengenang dan mendoakan para raja, sultan serta kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Pra-Erau sebelum memasuki pelaksanaan Festa Budaya Erau Adat Kutai 2026. Perwakilan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Haji Pangeran Haryo Noto Negoro, mengatakan Haul Jamak menjadi momentum untuk mengenang jasa para leluhur yang telah meletakkan fondasi bagi keberlangsungan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura hingga saat ini.
“Kegiatan hari ini merupakan rangkaian dari Pra-Erau. Kita melaksanakan Haul Jamak, kemudian dirangkai dengan Shalat Istisqa,” ujar Noto Negoro.
Menurutnya, doa bersama juga menjadi bagian dari ikhtiar agar seluruh rangkaian Erau Adat Kutai 2026 dapat berlangsung dengan lancar.
“Mudah-mudahan harapannya proses pelaksanaan Erau ini bisa berjalan dengan lancar, tanpa ada hambatan atau apa pun,” katanya.
Noto menjelaskan, sejumlah kegiatan terlebih dahulu dilaksanakan sebelum memasuki rangkaian utama Erau. Haul Jamak menjadi salah satunya sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur Kesultanan.
“Tujuannya untuk mendoakan para leluhur kita, agar beliau-beliau yang telah meletakkan fondasinya ditempatkan di sisi-Nya dan diterima ibadahnya,” ujarnya.
Sementara itu, Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahman Basri mengatakan, pelaksanaan Shalat Istisqa menjadi bentuk ikhtiar bersama untuk memohon hujan di tengah kondisi cuaca yang masih kering.
Menurutnya, kegiatan tersebut sekaligus dirangkaikan dengan Haul Jamak untuk para raja, sultan dan kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
“Hari ini kita melaksanakan Shalat Istisqa dan Haul Jamak untuk para raja dan sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Kegiatan ini sebagai bentuk ikhtiar kita untuk meminta hujan,” kata Aulia.
Dia menegaskan kegiatan pada Rabu pagi tersebut belum memasuki prosesi sakral Erau. Rangkaian sakral Erau Adat Kutai 2026 baru dimulai pada 20 September 2026.
“Ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Erau Adat Kutai tahun 2026. Akan tetapi, kita belum masuk ke acara sakral Erau, karena acara sakral baru kita mulai tanggal 20,” ujarnya.
Aulia berharap ikhtiar dan doa yang dilakukan bersama tersebut segera diikuti turunnya hujan di wilayah Kukar. Dia menyebut, tanda-tanda hujan sempat terlihat setelah kegiatan berlangsung. Namun, hujan belum turun karena kondisi angin yang cukup kuat.
“Harapan kita turun hujan. Tadi sepertinya sudah ada tanda-tanda mau turun hujan, tetapi anginnya agak lebih kuat, sehingga belum ada tanda-tanda lagi mau turun hujan,” sebutnya.
Shalat Istisqa tersebut menjadi salah satu momen menjelang Erau 2026, ketika tradisi Kesultanan dan ikhtiar masyarakat untuk menghadapi kondisi alam berjalan beriringan sebelum rangkaian sakral Erau dimulai. (fjr/adv)












