KUKAR IDAMAN SEP 26

Kurangi 500 Ton Sampah Per Hari, Pemkot Samarinda Siapkan 10 Insinerator

Kurangi 500 Ton Sampah Per Hari, Pemkot Samarinda Siapkan 10 Insinerator
Wali Kota Andi Harun saat meninjau insinerator. (Foto: Afdani/Dokpim)

SAMARINDA — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terus memperkuat strategi penanganan sampah melalui pendekatan inovatif berbasis teknologi. Salah satunya dengan menyiapkan 10 Tempat Pembuangan Sementara (TPS) modern yang dilengkapi fasilitas insinerator di berbagai titik kota.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Samarinda Andi Harun dalam kunjungan lapangan di TPS Kelurahan Baqa kecamatan Samarinda Seberang Jalan Sultan Hasanuddin, Kamis (26/3/2026) sore. Menurutnya, insinerator yang dibangun memiliki teknologi pembakaran tanpa cerobong asap, sehingga lebih ramah lingkungan dibanding metode konvensional.

“Insinerator ini tidak mengeluarkan asap ke udara, tapi disalurkan ke bawah melalui proses filterisasi air. Nanti airnya juga kita pastikan memenuhi baku mutu sebelum dilepas,” jelasnya dikutip dari siaran resmi.

Andi Harun menegaskan, penanganan sampah tidak hanya berfokus pada pengurangan volume, tetapi juga harus memperhatikan aspek lingkungan dan estetika kota.

“Penanganan sampah itu tidak hanya mengurangi timbulan, tapi juga harus menjaga lingkungan, tidak membahayakan masyarakat, dan tidak mengganggu estetika kota,” tegas Andi Harun.

Saat ini, sebanyak 10 unit insinerator disebut sudah siap secara fungsional dan tinggal menunggu tahap akhir sebelum dioperasikan.

Baca Juga  Timnas Indonesia Takluk 0-2 Kontra Juara Dunia Argentina

“Secara fungsi sudah siap. Tinggal pekerjaan minor seperti penataan taman dan penyelesaian administrasi, termasuk commissioning atau uji coba. Insya Allah sebelum Juni sudah bisa beroperasi, bahkan kita harapkan Mei,” ujarnya.

Dengan kapasitas sekitar 20 ton dalam delapan jam, satu insinerator mampu mengolah hingga 40–60 ton sampah per hari jika dioperasikan dalam beberapa shift. Jika seluruh unit beroperasi optimal, potensi pengurangan sampah bisa mencapai hingga 500 ton per hari.

“Kalau kita operasikan dua sampai tiga shift, maka satu unit bisa 40 sampai 60 ton. Dikalikan sepuluh, berarti kita bisa mengurai sekitar 400 sampai 600 ton sampah per hari,” paparnya.

Dampak langsung dari operasional ini adalah berkurangnya volume sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Sambutan, yang kini juga telah beralih dari sistem open dumping ke pengelolaan yang lebih modern dan ramah lingkungan.

Baca Juga  Polemik Sewa Kendaraan Jabatan, Wali Kota Samarinda Klaim Pemkot Tak Abai

Tak hanya berhenti di situ, Pemkot juga menyiapkan langkah lanjutan dengan merancang pengolahan sampah skala besar berbasis energi atau waste to energy di kawasan TPA.

“Kita siapkan opsi ke depan, bisa insinerator besar atau pengolahan sampah jadi energi, termasuk listrik. Tapi ini investasi besar, jadi kita dorong kerja sama dengan swasta, tidak membebani APBD,” jelas Andi Harun.

Dia menegaskan, pola kerja sama yang dibangun akan berbasis business to business, dengan tetap menjaga kepentingan daerah agar tidak terbebani secara fiskal.

“Saya tidak ingin meninggalkan beban bagi pemerintah berikutnya. Kita harus realistis melihat kemampuan keuangan daerah,” tegasnya.

Selain aspek teknologi, Pemkot juga mengedepankan nilai ekonomi dari pengolahan sampah. Residu hasil pembakaran akan dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna.

“Abu hasil pembakaran bisa kita olah jadi paving block atau bahan bangunan lain. Jadi tidak ada yang terbuang sia-sia,” ungkapnya.

Di tengah kebijakan efisiensi anggaran, Andi Harun memastikan pembangunan tetap berjalan dengan prinsip prioritas dan manfaat nyata bagi masyarakat.

Baca Juga  Relawan Siaga 24 Jam, Kukar Bentuk Posko Terpadu Karhutla di Tenggarong

“Efisiensi bukan berarti berhenti membangun. Justru kita diajarkan untuk lebih bijak, fokus pada yang paling dibutuhkan masyarakat, dan mengurangi belanja yang tidak produktif,” katanya.

Andi Harun pun mengajak seluruh masyarakat untuk turut berperan aktif dalam menjaga kebersihan kota, karena keberhasilan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada pemerintah.

“Kita tidak bisa berharap kepada siapa-siapa kalau bukan kita sendiri yang peduli. Kalau semua bergerak bersama, insya Allah Samarinda bisa menjadi kota yang benar-benar bersih,” pungkasnya. (xl)