KUTAI TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Timur (Kutim) berupaya menurunkan angka stunting hingga 14 persen. Hal ini ditegaskan Wakil Bupati Kutim Kasmidi Bulang seusai menghadiri Puncak Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-29 tahun 2022 secara virtual.
Kasmidi menyebut arahan Presiden RI di Harganas ke-29 ini, setelah Pandemi Covid-19 dua tahun lalu, adalah dampak dari perang Ukraina dan Rusia.
“Presiden tadi secara tegas menyampaikan, bahwa dunia ini belum aman. Karena ada perang Ukraina dan Rusia, itu berdampak terhadap pangan, energi dan migas. Tentunya juga berdampak ke Indonesia,” jelasnya.
Lebih lanjut Kasmidi menambahkan, instruksi Presiden jelas bahwa semua kepala daerah agar memanfaatkan lahan sekecil apapun untuk bercocak tanam. Baik tanamanan pangan maupun lainnya, agar ketersediaan pangan tetap terjaga.
Tak kalah penting, sambung Kasmidi adalah stunting. Masalah stunting harus ditekan. Guna memperkuat generasi di masa yang akan datang.
Sebagaimana diketahui, kata Kasmidi, angka stunting di Kutim tertinggi di Provinsi Kaltim 24 persen bahkan melebihi nasional yakni mencapai 27 persen. Namun data tersebut masih sedang dilakukan validasi di lapangan.
“Insyaallah apa yang sudah disampaikan Presiden, kami akan laksanakan di Kutim. Kami juga menargetkan 14 persen, hingga 2024,” tutur suami dari Satriani ini.
Sebab, penanggung jawab penurunan angka stunting di kabupaten adalah Wakil Bupati. Maka dalam waktu dekat, dirinya bersama TPPS Kabupaten Kutim akan melakukan rapat terkait program strategis dalam upaya penurunan angka stunting di Kutim.
“Kami akan adakan rapat lagi, untuk bahas program untuk penurunan angka stunting. Saya akan minta data yang diambil itu, disampaikan kepada saya dan akan evaluasi. Bisa saja bukan itu stunting semua, tetapi baru berisiko untuk stunting,” bebernya.
“Kami akan turun langsung ke locus stunting guna memastikan langsung,” tegas Kasmidi.
Lebih jauh orang nomor dua di Kutim ini menyatakan keseriusan Pemkab Kutim dalam rangka menurunkan stunting di Kutim. Bahkan, dia menyebut akan ada penambahan anggaran (APBD-P) khusus program penurunan stunting di Kutim.
“Mudah-mudahan dalam waktu dua tahun ini, kita bisa bekerja sama dengan semua pihak turunkan stunting di Kutim,” harapnya.
Sementara itu Sekretaris DPPKB Kutim Indra Arie Iranday menjelaskan, Tim TPPS Kutim sudah terbentuk hingga tingkat Desa di 18 Kecamatan yang ada, serta membentuk 176 Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang terdiri dari Tenaga Kader KB, TP PKK dan Bidan.
“Bertugas mendampingi serta memberikan edukasi kepada masyarakat berdasarkan data dari Kegiatan Pendataan Keluarga 2021(PK21) tentang proyeksi (prediksi) masyarakat yang kemungkinan mengarah pada stunting,” terangnya.
Untuk target penurunan angka stunting di Kutim, Indra sapaan akrab Indra Arie Iranday menjelaskan, berdasarkan data prevalensi stunting Kaltim 2022-2024 yang dirilis oleh BKKBN pusat untuk tahun 2022 sebesar 22,34 persen. Selanjutnya tahun 2023 sebesar 18,14 persen, sedangkan untuk tahun 2024 sebesar 14,14 persen.
“Ini bukan hanya pekerjaan satu Dinas saja, diperlukan kolaborasi semua stekholder untuk bersama-sama menurunkan angka stunting di Kutai Timur,” pungkasnya. (xl)












