Sopan Sopian Perjuangkan Listrik 24 Jam di Desa Tanjung Batuq Harapan

Sopan Sopian Perjuangkan Listrik 24 Jam di Desa Tanjung Batuq Harapan
Ketua Komisi II DPRD Kukar Sopan Sopian (baju hitam) berkoordinasi dengan petugas PLN untuk instalasi jaringan listrik. (Istimewa)

KUTAI KARTANEGARA – Desa Tanjung Batuq Harapan, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar) tak lama lagi akan menikmati fasilitas listrik. Sejak tahun 1970 desa ini berdiri warga hanya menggunakan mesin diesel oleh pemerintah desa.

Ketua Komisi II DPRD Kukar Sopan Sopian mengatakan, harapan tersebut merupakan aspirasi yang sangat diidam-idamkan demi kemajuan desa.

“Jadi selama desa ini berdiri, warga desa ini belum menikmati listrik negara,” kata Sopian.

Pada tahun 2021 lalu, warga desa mengusulkan pembangunan jaringan listrik melalui Perusahan Listrik Negara (PLN). Usulan itu diajukan warga pada saat kegiatan Musyawarah Perancanaan Pembangunan Desa (MusrenbangDes).

Baca Juga  Legislator Kukar Soroti Serapan Anggaran Distanak Masih di Bawah 50 Persen

Berangkat dari usulan tersebut, DPRD Kukar berkomitmen mengawalnya dan langsung melakukan koordinasi dengan PLN agar Desa Tanjung Batuq Harapan bisa dialiri listrik. Alhasil, usulan desa yang dikawal oleh DPRD itu akan terealisasikan dalam waktu dekat ini.

“Dari MusrenbangDes, DPRD mengawal aspirasinya, dengan melakukan koordinasi bersama PLN Rayon Kaltim. Agar listrik di desa terdekat, yaitu Desa Batuq yang sudah lebih dulu memiliki listrik PLN dialirkan sejauh dua kilometer menuju Desa Tanjung Batuq Harapan,” paparnya.

Ditargetkan pada Oktober ini, realisasi instalasi listrik sudah selesai. Politisi Gerindra ini juga berkomitmen untuk membantu mengusulkan pembangunan jaringan listrik di desa-desa lainnya yang belum teraliri listrik selama 24 jam.

Baca Juga  DPRD dan Pemkot Samarinda Setujui Revisi RPJMD

Khususnya, desa-desa yang berada di hulu Mahakam yang berasal dari Dapilnya. Salah satunya, Desa Lamin Telihan, Kecamatan Kenohan. Desa ini memang jauh dari jaringan induk PLN, namun masih ada solusi lainnya agar desa ini teraliri listrik.

Seperti menggunakan listrik komunal atau tenaga surya. Sehingga, masyarakat bisa menikmati listrik yang memang menjadi kebutuhan dasar sehari-hari.

“Warga sekarang memerlukan listrik minimal untuk penerangan dan memasak menggunakan rice cooker, walau terbatas listrik bisa dirasakan terbatas,” tutupnya. (zu)