KUKAR IDAMAN SEP 26

Sambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Desa Kerta Buana Gelar Parade Ogoh-Ogoh

Sambut Hari Raya Nyepi, Umat Hindu Desa Kerta Buana Gelar Parade Ogoh-Ogoh
Ribuan masyarakat menyaksikan parade Ogoh-Ogoh di Desa Kerta Buana. (Istimewa)

KUTAI KARTANEGARA – Dalam rangka menyambut hari Raya Nyepi tahun Saka 1946, Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang menggelar parade Ogoh-ogoh, Ahad (10/3/2024) kemarin. 

Umat Hindu yang berdatangan ke Desa Kerta Buana melaksanakan rangkaian persembahyangan yang dipusatkan di Pura Pasupati, Kawasan L4 Desa Kerta Buana, satu dari empat Pura yang dimiliki Kampung Pancasila itu.

“Kami sudah mengadakan persembahyangan, dan setelah ini akan kembali ke tempat ibadah masing-masing. Setelah itu, jam 5 harus kumpul sini lagi untuk Ogoh-ogoh sampai selesai, kemudian kami akan Catur Brata melaksanakan 4 pantangan dan puasa 24 Jam,” jelas Kepala Desa Kerta Buana I Dewa Ketut Basuki.

I Dewa Ketut Basuki menjelaskan, masyarakat Kerta Buana terdiri dari beragam suku dan sub suku, di antaranya yakni suku Bali. Namun kerukunan warganya sangat terjaga. 

Baca Juga  Progres RS Muara Badak, Wabup Kukar Optimistis Bisa Dioperasikan Akhir Tahun

“Kerta Buana ini sangat majemuk, Umat hindu kami ada 1.700, dari 5.291 jiwa. Kami juga dinobatkan sebagai Kampung Pancasila asal Kukar,” jelasnya.

Selain kaya akan sumber daya alam (SDA), Kecamatan Tenggarong Seberang juga kaya akan nilai-nilai toleransi, khususnya Kerta Buana, terdapat beragam suku dan agama yang hidup rukun dan damai. Desa ini juga memiliki Forum Kerukunan Umat Beragama bahkan sudah dinobatkan sebagai Desa Sadar Kerukunan dan Keagamaan dari Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag RI).

Lebih lanjut, Dewa menerangkan, tahun ini terdapat 5 patung Ogoh-ogoh yang diarak keliling desa. Yang diikuti dari kelompok dari tingkat anak-anak, remaja dan dewasa. 

Baca Juga  Jelang Ramadan, Koramil 03 Gotong Royong Bersihkan Ikon Samarinda Seberang

“Ogoh-ogoh selalu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat luas,” tambahnya.

I Komang Widnyana, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Desa (PHDI) Kerta Buana menambahkan, Ogoh-Ogoh disimbolkan dengan buruk rupa atau keburukan dan kejelekan. Diarak keliling kampung dengan orang banyak sebelum dibakar sebagai bagian prosesi.

“Dengan harapan dia pergi dari hidup kita dan di ujung prosesi Ogoh-Ogoh itu kita bakar sebagai simbol bahwa kita sudah dapat menaklukkan diri kita agar nantinya terhindar dari hal hal yang buruk. Sehingga besok ketika kami melaksanakan Brata kita murni bisa mengendalikan diri kita untuk kehidupan ke depan,” tutupnya. (zu/advdiskominfokukar)