SAMARINDA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kalimantan Timur mendorong percepatan transformasi ekonomi non-ekstraktif sebagai arah pembangunan daerah ke depan.
Ketua Kadin Kaltim, Putri Amanda, menilai ketergantungan terhadap sektor pertambangan masih menjadi persoalan utama yang perlu segera diatasi agar ekonomi daerah lebih berkelanjutan.
Dalam pembahasan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) 2027, Kadin mengidentifikasi tiga pilar penting yang perlu dikawal bersama. Salah satunya adalah akselerasi transformasi menuju sektor non-ekstraktif untuk mendorong pertumbuhan yang lebih berkualitas.
Menurut Putri, struktur ekonomi Kaltim hingga kini masih didominasi sektor tambang. Di sisi lain, capaian penurunan angka kemiskinan menjadi 5,17 persen pada 2025 dinilai sebagai momentum untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga merata.
“Pertumbuhan ke depan harus lebih berkualitas, tidak sekadar meningkat, tetapi juga memberi manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya saat menghadiri Musrenbang di Kantor Gubernur Kaltim.
Ia menekankan pentingnya hilirisasi industri sebagai langkah strategis. Kaltim, kata dia, tidak bisa terus bergantung pada ekspor bahan mentah dan perlu mengarahkan investasi ke sektor industri pengolahan.
“Investasi ke depan harus fokus pada industri pengolahan agar nilai tambah ekonomi bisa dirasakan pelaku usaha lokal dan masyarakat,” tegasnya.
Selain itu, Kadin juga menyoroti peluang dari bonus demografi dan penguatan ekonomi digital. Dengan rasio ketergantungan penduduk yang relatif rendah, Kaltim dinilai memiliki modal untuk mendorong produktivitas tenaga kerja.
Namun, peningkatan kualitas sumber daya manusia tetap menjadi tantangan, terutama karena Indeks Pembangunan Pemuda (IPP) masih berada di kisaran 58 persen.
Kadin Kaltim menyatakan dukungan terhadap program prioritas daerah dalam RKPD 2027, khususnya pada pengembangan ekonomi kreatif dan digital. Generasi muda dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang di sektor tersebut, termasuk industri kreatif hingga e-sports.
“Kami berharap penguatan pendidikan vokasi bisa menjadi prioritas, agar tenaga kerja lokal lebih kompetitif dan siap mengisi peluang, termasuk di kawasan IKN,” tutup Putri. (zu)












