KUTAI KARTANEGARA — Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong masyarakat mengolah sampah organik menjadi sesuatu yang bernilai guna melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Pengolahan tersebut dinilai dapat mengurangi volume sampah organik yang masuk ke tempat pembuangan sementara (TPS), sekaligus menghasilkan pakan alternatif untuk ternak dan ikan.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 DLHK Kukar Tri Joko Kuncoro mengatakan, sampah organik masih memiliki potensi untuk dimanfaatkan sehingga tidak seluruhnya harus dibuang ke TPS.
“Tujuannya untuk menyadarkan masyarakat bahwa sampah organik masih bisa dimanfaatkan. Salah satunya melalui budidaya maggot,” kata Tri Joko saat dihubungi, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, DLHK Kukar bekerja sama dengan Universitas Mulawarman dan sejumlah kelurahan untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat mengenai pengolahan sampah organik menggunakan maggot.
Budidaya maggot BSF memanfaatkan sampah organik sebagai pakan. Dengan cara tersebut, sebagian sampah rumah tangga dapat diolah sejak dari sumbernya sehingga tidak seluruhnya berakhir di TPS.
“Budidaya maggot menjadi salah satu cara yang efektif untuk mengatasi sampah organik. Sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot sehingga bisa mengurangi timbunan sampah,” ujarnya.
Tri Joko mengatakan hasil budidaya maggot juga dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan. Pengelolaannya bahkan dapat dikembangkan dalam sistem yang saling terhubung.
Salah satunya dengan memanfaatkan maggot sebagai pakan ayam petelur yang diharapkan dapat mendukung produktivitas ternak. Selain budidaya maggot, DLHK Kukar mendorong masyarakat mengolah sampah organik menjadi kompos. Hasil pengolahan dapat dimanfaatkan sebagai pupuk padat maupun pupuk cair.
Menurut Tri Joko, pengolahan tersebut dapat menjadi alternatif untuk mengurangi sampah organik sekaligus memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi masyarakat. Budidaya maggot saat ini mulai diterapkan oleh sejumlah kelompok masyarakat di Tenggarong dan beberapa kecamatan lainnya.
Tri Joko menilai pengolahan sampah organik dari tingkat masyarakat penting dilakukan karena sampah jenis tersebut dapat menimbulkan bau ketika bercampur dan menumpuk di TPS. Dia berharap semakin banyak masyarakat yang mulai memilah dan memanfaatkan sampah organik sebelum dibuang.
“Ini sangat disayangkan jika sampah organik masih dibuang ke TPS, karena sebenarnya memiliki nilai manfaat yang cukup tinggi,” pungkasnya. (fjr/adv)












