KUTAI KARTANEGARA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mengembangkan pemanfaatan gas metana yang dihasilkan dari timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Bekotok, Tenggarong. Langkah ini menjadi bagian komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan transformasi energi ramah lingkungan sesuai misi Kukar Idaman Terbaik yakni “Jaga Lingkungan Lestari”.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar Irawan menjelaskan, upaya pengelolaan gas metana di TPA Bekotok telah berlangsung selama sekitar satu setengah tahun. Inovasi ini dimulai pada 2024 melalui program bertajuk “Mantan Terindah”, singkatan dari Pemanfaatan Gas Metana di Odah Timbulan Sampah.
“Gas metana yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah kami manfaatkan kembali agar tidak terbuang sia-sia dan tidak menambah emisi karbon di udara,” ujar Irawan melalui sambungan telepon, Kamis (6/11/2025).
Saat ini, pengelolaan masih dilakukan dengan sistem sederhana. Sebanyak lima rumah di sekitar TPA Bekotok telah memanfaatkan gas metana tersebut untuk keperluan memasak sehari-hari.
Berdasarkan hasil kajian, potensi pemanfaatan bisa diperluas hingga 26 kepala keluarga, jika tekanan gas dapat ditingkatkan dengan teknologi yang lebih stabil. DLHK Kukar menargetkan untuk menggandeng pihak swasta atau perusahaan mitra dalam mengembangkan sistem pengelolaan yang lebih modern.
Kolaborasi ini diharapkan mampu menghadirkan teknologi pengaturan tekanan gas sekaligus menjamin aspek keselamatan dalam distribusinya.
“Kami ingin mengundang perusahaan untuk ikut serta melalui program tanggung jawab sosial (CSR). Dengan teknologi yang lebih baik, gas metana bisa dimanfaatkan secara lebih luas dan aman bagi masyarakat,” jelasnya.
Sebagai pembanding, Irawan menyebut Kota Balikpapan telah lebih dulu berhasil mengelola gas metana melalui kerja sama dengan sektor swasta. Dia yakin, Kukar juga dapat mengembangkan model serupa untuk mendukung transisi energi bersih sekaligus mengurangi dampak pencemaran lingkungan.
“Jika program ini berjalan optimal, TPA tidak hanya menjadi tempat pembuangan akhir, tetapi juga sumber energi alternatif yang bermanfaat bagi masyarakat,” tutupnya. (advprokom/fjr)












