KUTAI KARTANEGARA — Ada tradisi yang tetap dipertahankan dalam setiap pelaksanaan Festival Budaya Erau Adat Kutai di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Selama rangkaian Erau berlangsung, Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura tidak diperbolehkan menginjakkan kaki secara langsung ke tanah.
Tradisi tersebut berlaku sejak Tiang Ayu didirikan di Kedaton Museum Mulawarman hingga Tiang Ayu kembali dirobohkan sebagai tanda berakhirnya rangkaian adat Erau. Hal itu disampaikan Ayahanda Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, HM Aji Muhammad Arifin, usai Rapat Finalisasi Pelaksanaan Erau Adat Kutai di Eks Gedung Wanita, Tenggarong, Selasa (15/9/2026).
Dia menjelaskan, selama masa tersebut Sultan tetap beraktivitas tanpa menyentuhkan kaki secara langsung ke tanah. Salah satunya dengan menggunakan kain kuning sebagai alas ketika berada di lingkungan istana.
“Kalau kita tidak menginjakkan kaki ke tanah, itu mulai dari mendirikan Tiang Ayu di Kedaton Museum sampai berakhirnya Tiang Ayu dirobohkan. Baru kita bisa menginjak tanah,” ujarnya.
Menurut dia, ketentuan tersebut merupakan bagian dari adat yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa lampau.
“Memang sudah namanya adat, kita tidak bisa mengubah. Sudah dari zaman bahari, nenek moyang kita, sampai sekarang masih terpakai di anak cucu kita,” katanya.
Tradisi tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian adat yang masih dijaga dalam pelaksanaan Erau Adat Kutai. Bagi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, keberlangsungan tradisi tidak hanya menjadi bagian dari prosesi upacara, tetapi juga menjadi warisan budaya yang diteruskan kepada generasi berikutnya.
Festival Budaya Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20–27 September 2026 di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. (fjr)












