
SAMARINDA – Sebagai pengendalian inflasi, Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menggelar pasar murah. Sebagian besar produk yang dijual di pasar murah kebanyakan merupakan hasil dari pertanian dan pangan yang dijual dengan harga terjangkau.
Meskipun ada sebagian yang dihasilkan dari produk pertanian lokal, tetapi tidak semua. Hal ini diungkapkan Anggota Komisi II DPRD Samarinda Shania Rizky Amalia.
Dia mengakui dalam beberapa kali melakukan reses, khususnya di daerah pemilihan (Dapil) Kecamatan Samarinda Utara dan Sungai Pinang, masih ada petani yang tidak mengetahui adanya program dari pemerintah.
“Masih banyak yang tidak tahu ada program bantuan itu,” ujar Shania, Senin (13/3/2023).
Kata dia, memang selama ini ada beberapa kelompok tani yang dibina langsung oleh pemerintah. Tetapi tidak semua terdata dengan baik. Padahal pemerintah rutin memberikan gelontoran bantuan untuk pertanian.
Kemudian masih banyak petani yang mengeluhkan harga pupuk mahal serta membutuhkan bantuan, agar bisa menggarap lahan pertanian. Bahkan masih ada petani tidak mengetahui tujuan pemasaran hasil pertanian mereka.
“Bahkan data-datanya saja yang akurat masih belum ada di kelurahan, bagaimana mau mendapatkan bantuan,” tutur Shania.
“Mungkin ada beberapa kelompok tani yang dilibatkan, ada juga yang belum. Makanya saya berharap ke depannya bantuan pertanian itu diberikan secara merata,” sambungnya.
Shania mengaku, hal ini ditemukannya di beberapa daerah seperti Muang Dalam, Muang Ilir, Bayur, Lempake dan Gunung Lingai. Dia berharap di musim seperti ini pemerintah memberikan perhatian yang merata terhadap petani-petani lokal. (nta)












