KUKAR IDAMAN SEP 26

Kereta Cepat Bermasalah sejak Awal, Luhut: Saya Terima Sudah Busuk Itu Barang

Kereta Cepat Bermasalah sejak Awal, Luhut: Saya Terima Sudah Busuk Itu Barang
Luhut Binsar Pandjaitan (tengah). (istimewa)

JAKARTA – Polemik utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung Whoosh ditanggapi Luhut Binsar Pandjaitan (LBP) selaku Ketua Dewan Ekonomi Nasional. Luhut yang terlibat dalam proyek ini sejak awal pengerjaan mengaku proyek ini sudah bermasalah sejak awal. 

Hal tersebut disampaikannya dalam diskusi di JS Luwansa Jakarta, Kamis (16/10/2025). Menurutnya sejak awal Whoosh merupakan proyek bermasalah dan pemerintah memperbaiki persoalan itu dengan berunding bersama China Development Bank.

Sedari awal mengerjakan itu saya terima sudah busuk itu barang. Kemudian kami coba perbaiki, kami audit. Kami berunding dengan China dan China mau melakukan,” ungkap Luhut yang pada masa it menjabat Menko Marves.

Dalam hal ini dia meminta berbagai pihak untuk tidak banyak berkomentar jika tidak memiliki basis data dan pemahaman yang luas terkait dengan kereta cepat Whoosh. Menurut dia, pemerintah harus solid dan kompak dalam menyelesaikan segala persoalan Tanah Air. 

Baca Juga  Diskominfo Kaltim Sebut Perlu Penguatan Kelembagaan untuk Wujudkan Data Berkualitas

“Jadi kalau saran saya, kalau kita enggak mengerti datanya, enggak usah komentar dulu. Cari datanya baru berkomentar. Baru enak,” tutur Luhut.

Dirinya turut mempertanyakan usulan pembayaran utang Whoosh dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Luhut menayatakn tidak menolak ataupun merekomendasikan wacana ini. 

“Kita ribut soal Whoosh. Masalahnya apa sih? Itu kan tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? Enggak ada yang minta APBN. Restructuring saja,” imbuhnya.

Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia Rosan Roeslani menyebut sudah berkonsultasi dengan sejumlah kementerian termasuk Menteri Keuangan terkait dengan penyelesaian utang Whoosh ke China Development Bank. Saat ini pihaknya sedang mengevaluasi penyelesaian ini secara menyeluruh. 

Baca Juga  Angka Inflasi Samarinda Masih Terkendali, Wawali Ingatkan Tetap Waspada

“Tentu dalam evaluasi ini kami memberikan opsi satu, dua, dan tiga,” sebut Rosan tanpa menjabarkan perihal opsi apa saja yang akan ditempuh untuk penyelesaian utang kereta cepat ini. 

Dia cuma menerangkan bahwa Danantara Indonesia sedang mengkaji secara matang soal skema pembayaran utang tersebut. “Begitu nanti evaluasi sudah selesai, akan kami finalisasi segera. Baru kami bawa untuk diambil keputusan bersama yang terbaik,” ujarnya.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada Rabu  (15/10/2025) menyatakan Danantara memiliki cukup uang dari dividen badan usaha milik negara (BUMN) sekitar Rp90 triliun. Sedangkan utang kereta cepat mencapai Rp2 triliun setiap tahun. 

Jumlah tersebut dianggap bisa digunakan untuk membayar utang ke China Development Bank yang menjadi kreditor utama saat mendanai proyek ini. Purbaya mengatakan pembayaran utang kereta cepat Whoosh tak perlu menggunakan APBN. 

Baca Juga  Jokowi Klaim Pembangunan IKN Ciptakan Titik Pertumbuhan Ekonomi Baru

“Itu cukup untuk menutup yang Rp 2 triliun bayar tahunan kereta cepat. Saya yakin uangnya setiap tahun banyak di situ,” tegasnya, Rabu, (15/10/2025). (xl)