KUKAR IDAMAN SEP 26

Dinkes Kukar Perkuat Penanganan Stunting Lewat Pemberian Makanan Tambahan

Dinkes Kukar Perkuat Penanganan Stunting Lewat Pemberian Makanan Tambahan
Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufidah saat diwawancara. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) terus menjaga keberlanjutan program penanganan stunting. Dengan memperkuat intervensi melalui pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal.

Program tersebut dijalankan secara rutin melalui puskesmas dengan menyasar kelompok yang membutuhkan intervensi, terutama ibu hamil yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK) serta bayi dan balita yang mengalami stunting.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar Ismi Mufidah mengatakan, penanganan stunting menjadi salah satu program kesehatan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Menurutnya, meskipun sejumlah indikator kesehatan masih perlu ditingkatkan dan capaian Kukar belum sepenuhnya mencapai target nasional, program tidak boleh dihentikan.

“Ini memang masih perlu kita kejar dan perlu di-maintenance. Angka kematian balita, penurunan stunting, dan pencapaian indikator SPM masih menjadi program prioritas,” kata Ismi di Tenggarong, Selasa (22/9/2026).

Baca Juga  Kebut Administrasi, Pemkab Kukar Selesaikan Pinjaman Rp820 Miliar

Dia menilai keberlanjutan program penting untuk mencegah munculnya kembali persoalan kesehatan yang sebelumnya telah mengalami perbaikan.

“Kalau kita lengah, nanti kasus bisa muncul kembali. Jadi, setiap tahun maintenance tetap dilakukan dan program-program tersebut secara rutin terus kita kerjakan,” ujarnya.

Dalam penanganan stunting, PMT lokal menjadi salah satu bentuk intervensi yang telah berjalan di puskesmas-puskesmas di Kukar. Untuk ibu hamil, sasaran utamanya adalah mereka yang mengalami KEK. Salah satu indikator yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi tersebut ialah pengukuran lingkar lengan atas (LILA).

Ismi menjelaskan, ibu hamil dengan LILA di bawah 23 sentimeter menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapatkan perhatian dan intervensi lebih lanjut. Kondisi KEK dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kurangnya asupan makanan hingga infeksi atau faktor lainnya.

Baca Juga  Jawaban Jokowi Saat Ditanya Kenapa Tak Pindahkan Ibu Kota ke Papua

Karena itu, pemberian makanan tambahan dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil sesuai hasil pemeriksaan. Sementara pada balita stunting, PMT diberikan berdasarkan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.

“Ada kasus yang mendapatkan PMT lokal secara rutin, misalnya selama enam bulan, sesuai hasil pemeriksaan dan kebutuhan masing-masing,” jelasnya.

PMT yang diberikan tidak hanya berupa makanan tambahan secara umum, tetapi disusun dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Menurut Ismi, menu PMT dirancang oleh tenaga gizi dengan memperhatikan prinsip makanan seimbang, termasuk kebutuhan karbohidrat, protein dan zat gizi lainnya.

Bahan pangan yang digunakan diupayakan berasal dari sumber yang mudah diperoleh di daerah, termasuk kacang-kacangan dan berbagai sumber protein. Pendekatan tersebut diharapkan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan gizi sasaran, tetapi juga mendorong pemanfaatan potensi pangan yang tersedia di masyarakat.

Baca Juga  Kapal LCT Tak Seimbang, Dua Truk Pasir Jatuh Tenggelam ke Sungai Desa Gunung Sari

Dari sisi pembiayaan, pelaksanaan program dapat didukung melalui berbagai sumber, mulai dari puskesmas, Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) yang bersumber dari APBN maupun anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). “Program ini setiap tahun rutin kita kerjakan,” kata Ismi. (fjr/adv)