KUTAI KARTANEGARA — Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi balita dan lanjut usia (lansia) di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih dalam tahap persiapan. Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kukar masih mengkaji standar biaya makanan serta mematangkan data penerima sebelum program direalisasikan.
Kepala DPMD Kukar, Arianto, mengatakan menu makanan untuk balita dan lansia telah disusun oleh Dinas Kesehatan. Namun, pemerintah daerah masih perlu menghitung biaya penyediaan setiap menu agar pelaksanaannya memiliki standar yang jelas.
“Menu untuk balita sudah ada, menu untuk lansia sudah ada. Nah, kami lagi mengkoordinasikan, dikaji berapa besaran harga untuk membuat makanan menu yang dibuat oleh Dinas Kesehatan,” kata Arianto di Tenggarong, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, penetapan standar biaya diperlukan agar penyediaan makanan memiliki acuan yang seragam, termasuk dalam pelaksanaan dan pertanggungjawaban anggaran. Selain pembiayaan, DPMD Kukar juga mematangkan mekanisme penyaluran makanan kepada kelompok sasaran.
Program bagi balita direncanakan berkaitan dengan kegiatan posyandu, sedangkan mekanisme pelayanan untuk lansia masih perlu disesuaikan dengan kebutuhan penerima.
DPMD Kukar turut berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk menentukan warga yang berhak menerima program. Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi salah satu acuan dalam proses penentuan sasaran.
Sinkronisasi data juga diperlukan untuk mengantisipasi tumpang tindih penerima dengan program MBG dari pemerintah pusat. Sebab, program pemerintah pusat yang awalnya menyasar peserta didik juga telah menjangkau kelompok balita melalui layanan posyandu.
Karena itu, pemerintah daerah perlu memastikan program yang disiapkan dapat menjangkau warga sesuai kriteria dan tidak menduplikasi bantuan yang sudah diterima melalui program lain.
Arianto berharap kajian biaya, koordinasi lintas perangkat daerah, dan persiapan lainnya dapat diselesaikan pada akhir Oktober 2026. Meski demikian, pelaksanaan program masih bergantung pada penyelesaian seluruh tahapan perencanaan, terutama penetapan standar biaya dan sasaran penerima.
Jika persiapan rampung sesuai rencana, program diharapkan dapat segera dijalankan. Namun, apabila belum memungkinkan terealisasi tahun ini, pelaksanaannya dipertimbangkan pada tahun depan.
“Mudah-mudahan akhir bulan ini selesai semua dan kita bisa laksanakan juga, kalau tidak bisa tahun ini, tahun depan kita laksanakan, tapi perencanaan sudah dilaksanakan,” harap Arianto. (fjr/adv)












