KUKAR IDAMAN SEP 26

DPRD Soroti Kemajuan RS IA Moeis, dari Bayi Prematur hingga Layanan Thalasemia

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. (Istimewa)

SAMARINDA – Kemampuan RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda menangani kasus bayi prematur menunjukkan perkembangan. Rumah sakit milik Pemerintah Kota Samarinda itu kini mampu menangani bayi dengan berat lahir sekitar 700 gram, termasuk kasus kelahiran pada usia kehamilan di bawah 27 minggu.

Perkembangan tersebut menjadi perhatian Komisi IV DPRD Samarinda yang menilai peningkatan layanan tidak cukup hanya diukur dari penambahan gedung dan fasilitas. Kompetensi tenaga kesehatan serta kemampuan menangani kasus berisiko tinggi juga menjadi indikator penting.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mengatakan kemampuan menangani bayi dengan berat lahir sangat rendah menunjukkan adanya kemajuan dalam pelayanan neonatal di RS IA Moeis.

“Sekarang bayi dengan berat sekitar 700 gram sudah dapat ditangani dan bisa bertahan hidup. Bagi kami, ini merupakan perkembangan yang sangat luar biasa,” kata Sri, Rabu (1/9/2026).

Menurutnya, penanganan bayi prematur dengan berat lahir sangat rendah membutuhkan fasilitas khusus, peralatan medis yang memadai, serta tenaga kesehatan dengan kompetensi yang sesuai.

Baca Juga  Dishub PPU Siapkan Pengamanan dan Jalur Alternatif untuk Kelancaran Arus Mudik

Kemampuan tersebut, lanjut dia, berbeda dengan kondisi beberapa tahun sebelumnya ketika penanganan bayi prematur dengan berat lahir lebih tinggi masih menghadapi keterbatasan.

“Kalau sebelumnya bayi dengan berat sekitar 1,5 kilogram saja belum bisa kita tangani secara maksimal. Sekarang kondisinya sudah jauh berkembang. Ini memperlihatkan kemajuan ilmu kedokteran yang juga diikuti perkembangan peralatan medis,” ujarnya.

Peningkatan layanan itu turut ditopang beroperasinya gedung baru pelayanan kesehatan ibu dan anak (KIA). Namun, Sri menekankan keberadaan fasilitas harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas tenaga medis agar rumah sakit mampu menangani kasus yang semakin kompleks.

Selain pelayanan neonatal, RS IA Moeis juga menangani pasien thalasemia. Sri menyebut sekitar 74 pasien thalasemia menjalani perawatan di rumah sakit tersebut.

Ketersediaan darah menjadi salah satu kebutuhan penting dalam penanganan pasien dengan kelainan darah yang bersifat genetik tersebut. Menurut Sri, kebutuhan darah untuk mendukung perawatan pasien thalasemia kini telah tersedia di RS IA Moeis.

Baca Juga  Jokowi Bertemu Putri Ariani, Tegaskan Bakal Beri Dukungan di AGT 2023

“Kebutuhan darah untuk mendukung perawatan pasien thalasemia saat ini sudah tersedia di RS IA Moeis, sehingga pelayanan kepada pasien bisa dilakukan di sini,” katanya.

Kondisi itu dinilai dapat mengurangi kebutuhan pasien untuk mencari layanan di tempat lain, sekaligus memperkuat posisi RS IA Moeis sebagai salah satu fasilitas rujukan pelayanan kesehatan di Samarinda.

Di tengah perkembangan layanan tersebut, Komisi IV DPRD Samarinda juga mendorong agar RS IA Moeis mulai memperluas cakupan pelayanan, salah satunya melalui program bayi tabung.

Saat ini, masyarakat Kalimantan Timur yang membutuhkan layanan tersebut masih harus mencari fasilitas di luar daerah, seperti Surabaya dan Solo. Selain biaya medis, pasien juga harus menanggung ongkos perjalanan serta akomodasi selama menjalani rangkaian program.

Baca Juga  Peresmian Gedung Denpom VI/1 Samarinda, Sugiyono: Langkah Persiapan IKN

Sri menilai keberadaan layanan bayi tabung di Samarinda akan memangkas beban tersebut sekaligus memperluas akses masyarakat Kaltim terhadap layanan kesehatan reproduksi.

“Kami berharap program bayi tabung ini bisa segera direalisasikan. Dengan begitu, masyarakat tidak lagi harus pergi jauh ke Surabaya, Solo, atau daerah lainnya. Harapannya layanan itu nantinya sudah tersedia di Kaltim, khususnya Samarinda,” pungkasnya. (adv/zu)