KUKAR IDAMAN SEP 26

Hotel Baru Bermunculan, Helmi Dorong Warga Samarinda Jadi Prioritas Tenaga Kerja

Foto bersama usai pelantikan Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda periode 2026–2031 di Hotel Five Premier. (Istimewa)

SAMARINDA – Bertambahnya usaha perhotelan di Samarinda dinilai bisa menjadi salah satu peluang untuk menekan angka pengangguran. Ketua DPRD Samarinda Helmi Abdullah mendorong pengelola hotel agar memprioritaskan tenaga kerja lokal, terutama generasi muda.

Dorongan itu disampaikan di tengah masih tingginya angka pengangguran di Kota Tepian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah pengangguran terbuka di Samarinda mencapai 22.710 orang pada 2025, dengan tingkat pengangguran terbuka sebesar 5,31 persen.

Menurut Helmi, setiap pembangunan hotel baru membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan berbagai lini operasional. Mulai dari pelayanan tamu, restoran, hingga pengelolaan fasilitas hotel.

“Kalau dengan adanya penambahan hotel baru pasti akan menambah tenaga kerja. Anggaplah satu hotel itu bisa merekrut 10 sampai 20,” ujar Helmi usai menghadiri pelantikan Pengurus Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Samarinda periode 2026–2031 di Hotel Five Premier, Rabu (7/10/2026).

Baca Juga  DWP UP Diskominfo Kukar Sambangi Pensiunan ASN Kominfo

Namun, ia menilai peluang tersebut harus diikuti dengan kesiapan tenaga kerja lokal. Helmi tidak ingin masyarakat Samarinda hanya mengisi posisi dasar, sementara jenjang karier yang lebih tinggi justru diisi tenaga kerja dari luar daerah.

“Yang mencari kerja juga mempersiapkan diri sumber daya manusianya sehingga tidak hanya sebagai buruh atau staf-staf biasa, tapi bisa menempati posisi-posisi yang strategis,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong adanya peningkatan kompetensi bagi pencari kerja, khususnya anak muda Samarinda. Menurutnya, kemampuan dan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri akan memperbesar peluang tenaga kerja lokal untuk masuk sekaligus berkembang di sektor perhotelan.

Di sisi lain, pertumbuhan usaha perhotelan masih menghadapi tantangan dari sisi tingkat hunian. Data BPS yang dirilis 1 Oktober 2026 mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang di Samarinda sebesar 52,71 persen pada Agustus 2026.

Baca Juga  Komitmen Dukung Produk Lokal, Pemkab Gelar Bimtek UMKM Kukar Go Digital

Angka tersebut turun dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 56,96 persen. Penurunan okupansi menunjukkan pelaku industri masih perlu menjaga tingkat kunjungan dan aktivitas bisnis agar pertumbuhan usaha perhotelan tetap berkelanjutan.

Tantangan tersebut juga berkaitan dengan menurunnya aktivitas pemerintahan. Wali Kota Samarinda Andi Harun sebelumnya menyebut kontribusi sektor hotel dan restoran terhadap pendapatan asli daerah (PAD) mencapai Rp209,8 miliar sepanjang 2025.

Sementara hingga September 2026, realisasinya tercatat Rp166,9 miliar. Menurut Andi, kebijakan efisiensi anggaran turut memengaruhi aktivitas sektor perhotelan, terutama karena berkurangnya perjalanan dinas dan kegiatan pemerintahan.

Meski kondisi industri masih menghadapi sejumlah tantangan, Helmi berharap penambahan hotel tetap memberikan manfaat langsung bagi masyarakat Samarinda melalui pembukaan lapangan kerja.

“Harapan kita juga dengan adanya hotel-hotel baru itu tetap memprioritaskan anak-anak muda atau warga dari Samarinda untuk bekerja di hotel itu,” katanya.

Baca Juga  Belasan Pegawai Pemprov Kaltim Positif Covid-19, Gejalanya Mirip Omicron

Ia menilai pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat perlu membangun kerja sama untuk meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal. Dengan demikian, pertumbuhan industri perhotelan tidak berhenti pada bertambahnya investasi, tetapi juga membuka kesempatan kerja dan jenjang karier yang lebih luas bagi warga Samarinda. (zu)