KUKAR IDAMAN SEP 26

Lewat Panggung Teater “Ibu Negara”, Seniman Kukar Suarakan Keresahan Publik

Lewat Panggung Teater “Ibu Negara”, Seniman Kukar Suarakan Keresahan Publik
Pertunjukan teater "Ibu Negara" oleh Lanjong Foundation di Taman Ladaya, Tenggarong. (Komparasinews/Habib Fajar)

KUTAI KARTANEGARA – Seni pertunjukan kembali menjadi ruang penyampaian kritik sosial di Kutai Kartanegara. Melalui meta teater berjudul “Ibu Negara”, para seniman dari Lanjong Foundation mengangkat berbagai persoalan yang tengah dirasakan masyarakat, mulai dari tekanan ekonomi hingga jarak antara laporan pemerintah dan realitas di lapangan.

Pertunjukan yang digelar di Taman Ladaya, Kecamatan Tenggarong, Senin (1/6/2026) malam itu berhasil menarik ratusan penonton. 

Dengan balutan komedi dan satire, penonton diajak menyaksikan kisah seorang raja yang meyakini negaranya dalam kondisi baik-baik saja karena menerima laporan positif dari para bawahannya. Namun di balik laporan tersebut, kehidupan rakyat digambarkan jauh berbeda. 

Baca Juga  Duh, Petugas Karhutla Kukar Mulai Jatuh Sakit Usai Berhari-hari Padamkan Api

Berbagai persoalan masih dirasakan masyarakat, termasuk meningkatnya harga kebutuhan pokok dan tekanan ekonomi yang menjadi keluhan sehari-hari. Sutradara pertunjukan AB Asmarandana mengatakan, naskah Ibu Negara lahir dari berbagai kegelisahan yang ia temui langsung di tengah masyarakat.

“Ketika saya datang ke warung kopi, banyak yang mengeluhkan kondisi saat ini. Dari situ muncul kegelisahan yang kemudian saya tuangkan menjadi kerangka cerita,” ujarnya.

Asmarandana menyebut, naskah pertunjukan tidak dibuat secara kaku. Materi cerita terus diperbarui mengikuti perkembangan isu yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.

Bahkan, perubahan naskah dilakukan hampir setiap hari agar pesan yang disampaikan tetap relevan dengan kondisi terkini. Dia menilai teater tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga dapat menjadi media refleksi sosial yang mampu menyampaikan suara masyarakat melalui pendekatan yang lebih ringan dan mudah diterima publik.

Baca Juga  Celni Pita Sari Dukung Rencana Samarinda Bebas Tambang di Tahun 2026

Dalam pertunjukan tersebut, kritik tidak disampaikan secara frontal. Sebaliknya, para pemain mengemasnya melalui humor, dialog satir, dan interaksi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga mudah dipahami penonton dari berbagai kalangan.

“Meta teater yang saya pilih adalah bagaimana merangkul penonton dengan bahasa yang lugas dan mudah dipahami,” katanya.

Melalui drama tersebut, Lanjong Foundation menunjukkan bahwa panggung seni masih menjadi ruang penting untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan refleksi terhadap berbagai persoalan sosial yang berkembang di tengah masyarakat. (fjr)