KUKAR IDAMAN SEP 26

Refleksi May Day, Menilik Perjalanan dan Tantangan Buruh di Indonesia

Foto: Peringatan Hari Buruh 1 Mei 2026 di Monas. (Tangkapan layar YouTube Sekretariat Presiden)

SETIAP 1 Mei, jutaan pekerja di berbagai negara memperingati Hari Buruh Internasional atau May Day. Momentum ini menjadi simbol panjang perjuangan kelas pekerja dalam menuntut hak dan keadilan.

Sejarah May Day berakar dari gerakan buruh di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Saat itu, para pekerja menghadapi kondisi kerja yang berat—jam kerja panjang hingga 12–16 jam per hari, upah rendah, serta minim perlindungan keselamatan.

Puncak perlawanan terjadi pada 1 Mei 1886, ketika ratusan ribu buruh di berbagai kota di Amerika Serikat melakukan aksi mogok massal. Mereka menuntut pemberlakuan jam kerja delapan jam sehari. Aksi terbesar berlangsung di Chicago dan memicu peristiwa yang dikenal sebagai Haymarket Affair pada 4 Mei 1886.

Dalam demonstrasi tersebut, ledakan bom terjadi saat polisi membubarkan massa. Insiden itu menewaskan sejumlah polisi dan warga sipil, serta berujung pada penangkapan dan eksekusi sejumlah aktivis buruh. Peristiwa ini kemudian menjadi simbol pengorbanan dalam perjuangan hak pekerja.

Baca Juga  Pemprov Kaltim Bangun Sekolah Rakyat, Prioritaskan Anak dari Keluarga Miskin Ekstrem

Tiga tahun kemudian, pada 1889, Kongres Buruh Internasional (Second International) di Paris menetapkan 1 Mei sebagai Hari Buruh Internasional untuk mengenang perjuangan buruh Chicago sekaligus memperkuat solidaritas global.

Sejak saat itu, May Day diperingati di berbagai negara melalui aksi demonstrasi, pawai, hingga kegiatan edukasi tentang hak-hak pekerja.

Sejarah Perjuangan Buruh di Indonesia

Di Indonesia, gerakan buruh telah muncul sejak masa kolonial. Mengacu pada catatan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), peringatan Hari Buruh pertama kali dilakukan pada 1 Mei 1918 oleh organisasi buruh di Hindia Belanda. Tuntutan saat itu berfokus pada perbaikan upah dan kondisi kerja di tengah sistem kolonial yang eksploitatif.

Baca Juga  Dewan Terima Banyak Usulan Sekolah Baru

Memasuki masa kemerdekaan, peringatan May Day sempat berlangsung terbuka. Pada era Presiden Soekarno, Hari Buruh bahkan ditetapkan sebagai hari libur nasional pada 1960, sebagai bentuk pengakuan negara terhadap peran pekerja.

Namun, pada masa Orde Baru, peringatan May Day ditiadakan dan kerap dikaitkan dengan ideologi tertentu. Aktivitas buruh pun dibatasi dan berada di bawah kontrol negara.

Setelah Reformasi 1998, kebebasan berserikat kembali terbuka. Buruh mulai kembali memperingati May Day melalui aksi dan unjuk rasa.

Pemerintah kemudian menetapkan kembali 1 Mei sebagai hari libur nasional sejak 2013, menandai pengakuan resmi terhadap peran pekerja dalam pembangunan nasional.

Meski demikian, tantangan buruh di Indonesia terus berkembang. Isu upah layak, jaminan sosial, serta kepastian kerja—termasuk bagi pekerja dalam sistem gig economy—menjadi sorotan dalam peringatan May Day saat ini.

Baca Juga  Sean Gelael Tampil Gemilang di WEC 6H COTA

Dengan demikian, May Day tidak hanya mengenang sejarah global, tetapi juga merefleksikan perjalanan panjang buruh Indonesia dalam memperjuangkan hak dan kesejahteraan. (zu)

Referensi:

Kementerian Ketenagakerjaan RI. “Sejarah Hari Buruh di Indonesia.”

International Labour Organization (ILO). “History of May Day.” https://www.ilo.org