KUKAR IDAMAN SEP 26

Sri Puji Astuti Minta Edukasi KB Menjangkau Calon Pengantin

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti. (istimewa)

SAMARINDA – Persiapan pernikahan tak seharusnya berhenti pada urusan administrasi dan pesta. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga juga perlu menjadi bekal calon pengantin sebelum memasuki kehidupan rumah tangga.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, mendorong pemerintah memperluas edukasi program Keluarga Berencana (KB) bagi pasangan yang akan menikah. Pembekalan sejak dini dinilai membantu pasangan merencanakan kehamilan, menentukan jarak kelahiran, serta mempersiapkan kehidupan keluarga.

“Calon pengantin sebaiknya memperoleh pengetahuan tentang KB sebelum menikah agar lebih siap menentukan waktu kehamilan dan merencanakan kehidupan keluarga,” ujarnya, Selasa (6/10/2026).

Menurut Sri Puji, puskesmas dapat menjadi tempat bagi calon pengantin untuk berkonsultasi mengenai kesehatan reproduksi dan pilihan kontrasepsi. Dengan informasi yang memadai, pasangan diharapkan dapat memahami manfaat perencanaan kehamilan dan pengaturan jarak kelahiran.

Baca Juga  Dinas PU Kukar Gerak Cepat Penanganan Sementara Jalan Rusak Teluk Muda

Ia mengingatkan, keputusan memiliki anak perlu mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari kesiapan fisik, kondisi ekonomi, hingga kemampuan orang tua memenuhi kebutuhan anak.

Selain meningkatkan pemahaman calon pengantin, Sri Puji menyoroti pentingnya melibatkan laki-laki dalam program KB. Selama ini, pengaturan kelahiran masih kerap dipandang sebagai urusan perempuan, padahal keputusan tersebut menyangkut kepentingan kedua pasangan.

“Suami perlu dilibatkan sejak awal karena keputusan memiliki anak dan mengatur jarak kelahiran harus menjadi kesepakatan bersama dalam rumah tangga,” katanya.

Baca Juga  Revitalisasi Pulau Kumala Hadirkan Konsep Edukasi dan Wisata Alam Terpadu Kukar

Sri Puji menilai, perubahan pola pikir masyarakat membutuhkan edukasi yang berkelanjutan. Sosialisasi program KB, menurutnya, tidak cukup hanya menyasar perempuan, tetapi juga perlu membuka ruang bagi laki-laki untuk mendapatkan informasi dan berkonsultasi.

Ia berharap petugas kesehatan dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada calon suami maupun calon istri. Dengan begitu, perencanaan keluarga tidak hanya menjadi keputusan sepihak, melainkan hasil kesepakatan pasangan berdasarkan pengetahuan yang tepat.

“Kesadaran masyarakat perlu terus dibangun melalui edukasi yang tepat agar pasangan memahami manfaat perencanaan keluarga bagi kehidupan mereka ke depan,” imbuhnya.

Sri Puji menegaskan, edukasi KB sebelum menikah merupakan bagian dari upaya mempersiapkan pasangan menghadapi kehidupan berkeluarga. Pemahaman tentang perencanaan kehamilan diharapkan membantu pasangan mengambil keputusan secara bertanggung jawab sekaligus mendukung kesehatan ibu dan anak. (zu)