KUTAI KARTANEGARA – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit mulai memukul petani di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Sejumlah petani swadaya bahkan memilih tidak memanen sawit karena hasil penjualan dinilai tidak lagi mampu menutup biaya operasional.
Kondisi tersebut mulai terlihat di beberapa wilayah perkebunan rakyat dan menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Kukar karena berpotensi memengaruhi ekonomi masyarakat desa.
Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kukar Muhammad Taufik mengatakan, harga sawit di tingkat petani swadaya saat ini berada di bawah Rp2.000 per kilogram. Angka itu dinilai terlalu rendah dibanding biaya produksi dan ongkos panen.
“Sudah ada petani swadaya yang memilih tidak memanen karena harga sekarang tidak menutup biaya operasional,” ujarnya saat dihubungi, Jumat (29/5/2026).
Taufik menyebut, harga sawit sempat turun hingga sekitar Rp1.600 per kilogram. Padahal sebelumnya harga normal bisa berada di kisaran Rp3.000 per kilogram. Dia menjelaskan, kondisi tersebut paling dirasakan petani swadaya yang tidak terikat kemitraan dengan perusahaan. Sebab harga jual mereka sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar.
Berbeda dengan petani plasma yang bermitra dengan perusahaan perkebunan. Kelompok ini masih mendapatkan harga sesuai penetapan pemerintah provinsi.
“Kami sudah mengimbau perusahaan agar tetap mengikuti harga penetapan pemerintah untuk petani yang bermitra,” katanya.
Menurut Taufik, pemerintah daerah hanya bisa melakukan pengawasan harga secara langsung pada sektor kemitraan. Sementara harga di tingkat petani swadaya lebih sulit dikendalikan karena berada di luar skema tersebut.
Disbun Kukar mencatat total luas perkebunan sawit di Kukar mencapai sekitar 206 ribu hektare. Sebagian besar masih dikelola melalui pola kemitraan antara perusahaan dan petani plasma.
Meski begitu, petani swadaya tetap menjadi kelompok paling rentan saat harga sawit dunia mengalami penurunan. Pemkab Kukar khawatir kondisi tersebut dapat berdampak terhadap perputaran ekonomi desa, mengingat sektor sawit masih menjadi sumber penghasilan utama masyarakat di sejumlah wilayah.
Penurunan harga TBS disebut mulai terjadi setelah munculnya wacana kebijakan ekspor satu pintu untuk crude palm oil (CPO). Meski demikian, pemerintah berharap kondisi tersebut hanya bersifat sementara dan harga sawit dapat kembali membaik mengikuti pergerakan pasar global.
“Kalau harga CPO dunia membaik, tentu harga TBS juga akan ikut naik,” tutup Taufik. (fjr)












