KUKAR IDAMAN SEP 26

Ratusan Penumpang Masih Hilang, Tim SAR Terus Lakukan Evakuasi Tragedi KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa

Kapal Virgo Transport 8. (Istimewa)

JAKARTA — Operasi pencarian dan pertolongan (SAR) skala besar terus dikerahkan di Perairan Laut Jawa pasca-kecelakaan fatal yang menimpa KM Virgo Transport 8 rute Surabaya–Banjarmasin. Hingga kini, tim SAR gabungan bergerak cepat menyelamatkan puluhan nyawa yang masih berada di perairan sekitar 80 mil laut dari Dermaga SAR Basirih, Banjarmasin.

Berdasarkan data manifes resmi, kapal penyeberangan tersebut mengangkut total 243 orang—terdiri atas 30 kru, 27 mitra kerja, 60 penumpang umum dan anak-anak, serta 126 sopir beserta kernet—serta 89 unit kendaraan.

Kepala Kantor Basarnas Banjarmasin, I Putu Sudayana, menjelaskan bahwa upaya penyelamatan melibatkan armada Basarnas, TNI AL, Polri, serta bantuan kapal-kapal sipil di sekitar lokasi kecelakaan. Di antaranya adalah MV Hai Da, TB Mauhaw IX, TB TCP, dan KM Cahaya Bahari Jaya.

Baca Juga  Wagub Sebut Dokter di Kaltim Harus Jadi Penggerak Pelayanan Kesehatan

Lebih dari 100 penumpang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat. Namun, duka menyelimuti insiden ini setelah 6 orang dipastikan meninggal dunia. Saat ini, fokus utama petugas adalah menyisir perairan untuk mencari sekitar 130 penumpang yang masih dinyatakan hilang.

Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi meluruskan simpang siur informasi terkait kondisi armada. Pihaknya menegaskan bahwa KM Virgo Transport 8 tidak langsung tenggelam ke dasar laut, melainkan ditemukan dalam posisi terbalik.

Baca Juga  Keributan di Sungai Dama, Wartawan Media Nasional Dipukul Balok Kayu

“Berdasarkan laporan pemantauan udara, kapal belum dalam posisi tenggelam sepenuhnya, melainkan mengapung dalam kondisi terbalik,” ujar Menhub Dudy Purwagandhi dalam keterangan resminya.

Menjelaskan kronologi teknis, Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mengungkapkan bahwa awak kapal sempat melaporkan situasi darurat akibat faktor cuaca sebelum komunikasi terputus total pada Minggu dini hari.

“Awak kapal sempat melaporkan menghadapi cuaca buruk di Laut Jawa. Beberapa jam kemudian, dilaporkan terjadi perubahan center of gravity (titik berat) dan kemiringan drastis sebelum akhirnya kapal mengirimkan sinyal bahaya (broadcast distress signal),” terang Mohammad Syafii.

Hingga berita ini diturunkan, operasi pencarian korban hilang masih dilakukan secara intensif melalui jalur laut dan udara, sementara investigasi mengenai penyebab pasti perubahan stabilitas kapal tengah berjalan beriringan. (zu)