BALIKPAPAN – Hujan yang mengguyur Balikpapan belum mampu mengurangi kabut asap secara signifikan. Intensitas hujan yang masih ringan hingga sedang dan hanya terjadi di wilayah tertentu dinilai belum cukup untuk mengatasi sumber asap, terutama dari kebakaran lahan gambut.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) KLH/BPLH menunjukkan kualitas udara di kawasan Sepinggan, Balikpapan Selatan, berada pada kategori Tidak Sehat dengan nilai ISPU 111 pada Rabu (14/10/2026) pukul 09.00 WITA.
Partikel halus PM2.5 menjadi pencemar utama dengan nilai 111. Sementara itu, parameter PM10 tercatat 62, NO2 sebesar 27, SO2 sebesar 3, O3 sebesar 3, CO sebesar 1, dan HC sebesar 0.
Ketua Tim Kerja Data dan Informasi BMKG Balikpapan, Huda Abshor Mukhsinin, menjelaskan hujan berdurasi singkat belum tentu mampu memadamkan api yang membara di lapisan dalam tanah gambut.
Menurutnya, karakteristik gambut yang mudah terbakar memungkinkan api merambat hingga beberapa meter di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat sumber asap tetap bertahan meskipun hujan telah turun.
“Lahan gambut memiliki sifat yang mudah terbakar dan merambat hingga kedalaman tanah beberapa meter,” jelas Huda, Rabu (14/10/2026).
Ia mengatakan, hujan ringan hingga sedang belum cukup membasahi lapisan gambut yang terbakar. Karena itu, diperlukan hujan secara berkelanjutan untuk membantu menekan kebakaran dan mengurangi produksi asap.
“Belum cukup efektif, diperlukan hujan hingga beberapa hari ke depan hingga berminggu-minggu untuk dapat mengurangi dampak asap yang terjadi,” ungkapnya.
Huda juga menjelaskan, hujan tidak serta-merta membuat udara terlihat lebih bersih. Air hujan yang kembali menguap dan bercampur dengan partikel asap dapat membuat atmosfer tampak semakin pekat dan berkabut.
Selain itu, kabut asap yang menyelimuti Balikpapan diperkirakan berasal dari wilayah sekitar. Pergerakan angin turut menentukan arah dan sebaran asap yang mencapai Kota Minyak.
“Faktor angin pun cukup memengaruhi kabut asap di Balikpapan,” tandasnya. (zu)












