KUTAI KARTANEGARA – Kericuhan terjadi di Desa Bila Talang, Kecamatan Tabang, Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (8/8/2026). Aksi massa yang dipicu tuntutan kepastian hukum terkait dugaan pengeroyokan berujung pada pembakaran sebuah rumah.
Peristiwa tersebut merupakan buntut dari insiden yang terjadi pada Kamis (6/8/2026) malam. Camat Tabang Asmi Riyandi Elvander mengatakan, insiden awalnya diduga sebagai kecelakaan yang menyebabkan satu orang meninggal dunia dan satu lainnya mengalami luka-luka.
Namun, berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh kepolisian, muncul dugaan adanya pengeroyokan atau perkelahian.
“Awalnya diduga kecelakaan, jadi meninggal dunia satu orang dan satu orang dalam kondisi luka-luka. Setelah adanya hasil olah TKP oleh Polsek setempat, di situ muncul dugaan terkait dengan pengeroyokan atau perkelahian seperti itu,” ujar Elvander saat dikonfirmasi, Ahad (9/8/2026).
Dugaan tersebut kemudian memicu keresahan di tengah masyarakat. Massa meminta kepastian mengenai kejadian yang menyebabkan satu orang meninggal dunia tersebut.
Menurut Elvander, sempat berkembang informasi di masyarakat mengenai puluhan orang yang diduga berkaitan dengan insiden tersebut. Namun dia menegaskan jumlah maupun pihak yang diduga terlibat belum dapat dipastikan karena penyelidikan masih berlangsung.
“Kita belum tahu hasil penyelidikan Polsek Tabang itu, termasuk jumlah yang diduga sebagai pelaku,” katanya.
Massa kemudian bergerak menuju sejumlah lokasi yang diduga berkaitan dengan orang-orang yang namanya muncul di tengah masyarakat. Beberapa rumah disebut menjadi sasaran perusakan.
Pergerakan massa berlanjut ke sebuah warung makan yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian. Warung tersebut diketahui kerap menjadi tempat berkumpul warga hingga malam hari.
Elvander mengatakan massa mendatangi warung tersebut untuk meminta penjelasan terkait insiden yang terjadi sebelumnya. Situasi kemudian memanas hingga berujung pada pembakaran.
“Ketika massa meminta penjelasan, tidak kooperatif. Akhirnya ada beberapa yang emosi, sehingga terjadi pembakaran,” sebutnya.
Setelah aksi tersebut, massa bergerak menuju Polsek Tabang untuk menyampaikan aspirasi. Mereka meminta kepastian hukum dan transparansi dalam penanganan perkara.
Bahkan, menurut Elvander, massa menyampaikan akan kembali bergerak apabila dalam dua hari kepolisian belum mengumumkan pihak yang diduga terlibat.
“Kalau Polsek tidak mengumumkan pelaku tadi dalam dua hari terakhir, maka massa akan bergerak lagi,” ungkapnya.
Meski terjadi aksi massa dan pembakaran, Elvander mengatakan berdasarkan informasi yang diterimanya tidak ada korban tambahan akibat kericuhan tersebut. Dia mengimbau masyarakat tetap menjaga situasi kondusif dan tidak terprovokasi informasi yang belum terverifikasi.
Elvander juga menegaskan kericuhan tersebut tidak berkaitan dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).
“Sebetulnya tidak ada. Ini betul-betul menuntut kepastian hukum dan transparan dalam langkah mengolah kejadian ini. Itu yang diinginkan masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tabang Aiptu Yudi, belum memberikan keterangan mengenai kronologi maupun jumlah korban dalam peristiwa tersebut. “Untuk sementara saya belum bisa memberikan klarifikasi atau statement karena dari Polres lagi backup langsung datang ke sini,” katanya. (fjr)












