KUKAR IDAMAN SEP 26

Maarten Paes Siap Jaga Gawang Indonesia untuk Menangkan Trofi FIFA ASEAN Cup

Maarten Paes Siap Jaga Gawang Indonesia untuk Menangkan Trofi FIFA ASEAN Cup
MAarten Paes. (FIFA)

DI antara gemuruh stadion dan nyanyian yang mengalun dari tribune, Maarten Paes menemukan sesuatu yang melampaui sepak bola: ikatan emosional dengan negeri yang kini ia sebut sebagai rumah.

Perjalanan panjang dari Belanda, panggung Major League Soccer (MLS), hingga Ajax membawanya pada satu mimpi yang semakin kuat bersama Timnas Indonesia—menorehkan sejarah dan mengangkat trofi di hadapan jutaan pendukung Garuda.

“Semua yang terjadi dalam karier saya terjadi karena suatu alasan. Saya banyak berkembang dan semakin dewasa karenanya,” ujar Paes dalam wawancara eksklusif dengan FIFA.

Seiring bertambahnya usia, prioritas penjaga gawang kelahiran Belanda itu pun berubah. Baginya, kemenangan bersama tim kini jauh lebih berarti daripada pencapaian pribadi.

“Ego saya tidak lagi terlalu penting. Saya hanya ingin memberikan kontribusi sebesar mungkin bagi tim. Tujuan utama saya adalah membangun tim pemenang, baik bersama tim nasional maupun klub,” katanya.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Paes terjadi ketika ia menjalani debut bersama Indonesia pada 2024. Menghadapi Arab Saudi dalam laga Kualifikasi Piala Dunia FIFA 2026 di Jeddah, ia merasakan pengalaman emosional saat pertama kali mengenakan lambang Garuda dan mendengar lagu kebangsaan.

“Momen pertama yang membuat saya merinding adalah lagu kebangsaan,” kenangnya.

Selain pengalaman tersebut, Paes juga terkesan dengan kehadiran suporter Indonesia yang memenuhi stadion. Bahkan, menurut pengamatannya, jumlah pendukung Garuda saat itu melampaui suporter tuan rumah.

Baca Juga  Miris, Pemerintah Tak Juga Sebut Nama Israel dalam Gugurnya TNI di Lebanon

Ketika Sandy Walsh mencetak gol, kegembiraan para pendukung Indonesia semakin membekas dalam ingatannya. Meski Arab Saudi berhasil menyamakan kedudukan melalui gol yang berubah arah setelah membentur pemain lain, Paes tampil gemilang dengan menggagalkan tendangan penalti pada babak kedua. Indonesia pun membawa pulang satu poin berharga dari Jeddah.

Keesokan harinya, sang penjaga gawang terbang ke Jakarta dan kembali menyaksikan antusiasme luar biasa para suporter. Ia kemudian tampil sebagai Man of the Match ketika Indonesia bermain imbang tanpa gol melawan Australia.

“Itu adalah pekan impian saya,” ungkap Paes.

Pengalaman tersebut memiliki makna lebih dalam bagi pemain Ajax itu. Beberapa bulan sebelumnya, ia kehilangan neneknya, sosok yang memperkenalkannya kepada budaya Indonesia, termasuk lagu-lagu seperti “Tanah Airku”.

“Setiap kali mendengar lagu itu, saya teringat kenangan bersama nenek saya,” tuturnya.

Kini, Paes menantikan kesempatan kembali bermain di hadapan publik Indonesia dalam FIFA ASEAN Cup. Ia berharap stadion dipenuhi suporter yang mampu menghadirkan atmosfer istimewa, seperti yang pernah ia rasakan dalam sejumlah pertandingan kandang Garuda.

“Ketika memikirkan pertandingan kandang melawan Australia, Bahrain, Jepang, dan Arab Saudi, kami telah menorehkan sejarah. Mengenang momen-momen itu selalu membuat saya merinding,” kata Paes.

Menurut kiper Timnas Indonesia tersebut, keberadaan FIFA ASEAN Cup akan menjadi tonggak penting bagi perkembangan sepak bola Asia Tenggara. Kesempatan memanggil pemain yang berkarier di Eropa, Amerika, dan berbagai belahan dunia dinilainya dapat meningkatkan kualitas persaingan di kawasan.

Baca Juga  Serapan Anggaran Distransnaker Kukar di Triwulan I Capai 20,87 Persen

“Ini perkembangan yang baik, bukan hanya untuk Indonesia, tetapi juga seluruh negara yang berpartisipasi. Hal ini akan meningkatkan level sepak bola Asia Tenggara,” jelasnya.

Di Ajax, Paes kini berada dalam lingkungan yang menuntut ambisi dan mentalitas kemenangan. Ia menikmati kesempatan bekerja bersama penjaga gawang kelas dunia Marc-Andre ter Stegen, sekaligus bersaing dengan Emil Audero di Timnas Indonesia.

Bagi pemain berusia 28 tahun itu, persaingan justru menjadi dorongan untuk terus berkembang.

“Semakin baik persaingan yang Anda hadapi, semakin besar dorongan untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri,” ujar Paes.

Ia menegaskan bahwa hubungannya dengan Audero tetap dilandasi dukungan dan kebersamaan. Siapa pun yang dipercaya pelatih John Herdman untuk bermain, kepentingan Indonesia tetap menjadi prioritas utama.

“Semakin bertambah usia, semakin penting bagi saya bahwa Garuda menang, bukan saya atau Emil,” tegasnya.

Paes merangkum prinsip tersebut melalui sebuah ungkapan yang mencerminkan semangatnya bersama tim nasional. “Di Indonesia, kita mengatakan bahwa kita harus mengorbankan ego demi Garuda. Dan itulah yang kami lakukan,” tuturnya.

Prinsip itu pula yang mendasari ambisinya di ASEAN Cup, di mana Indonesia menjadi tuan rumah Divisi 1 dan tergabung di fase grup dengan Malaysia, Singapura dan Bangladesh. Paes ingin mempersembahkan gelar juara kepada masyarakat Indonesia sebagai balasan atas dukungan yang telah mereka berikan selama beberapa tahun terakhir.

Baca Juga  Sekolah Siaga Kependudukan Diluncurkan di Samarinda, Ini Harapan Wali Kota

“Bagi saya, tujuannya adalah memenangkan trofi. Saya ingin sekali meraih gelar di hadapan suporter sendiri, untuk membalas seluruh dukungan mereka selama beberapa tahun terakhir,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar gelar, Paes berharap keberhasilan tersebut dapat menjadi bekal kepercayaan diri bagi Indonesia menjelang Piala Asia di Arab Saudi pada Januari mendatang. “Tujuan pertama adalah memenangkan trofi di sini dan membangun perasaan yang sangat baik menuju Piala Asia,” sebutnya.

Pada akhirnya, bagi Paes, sepak bola adalah tentang menciptakan kenangan dan menorehkan sejarah bersama. “Perasaan terhubung dengan tim dan suporter adalah hal terindah dalam sepak bola,” tutup sang penjaga gawang. (xl)